Perbandingan Harga Gas di Luar Negeri

Perbandingan Harga Gas  di Luar Negeri

Pasokan gas menjadi sebuah persoalan yang seolah tak ada titik temu. Di satu sisi, industri termasuk di dalamnya PLN (Persero) mengaku masih mengalami kekurangan gas. Tetapi di sisi lain, Indonesia justru melakukan ekspor gas ke luar negeri. Alhasil, impor gas menjadi menjadi salah satu opsi yang mungkin dapat dipilih untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Juni lalu misalnya, terungkap adanya sekitar 10 asosiasi industri yang mengaku hanya mendapat pasokan gas setengah dari kebutuhan mereka. Dari sekitar 1.500 juta kaki kubik per hari gas yang dibutuhkan oleh industri-industri tersebut, pasokan yang didapat hanya sebesar 800 juta kaki kubik per hari.

Kekurangan pasokan gas juga dira­sa­kan oleh PLN. Pertengahan Juni lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Darwin Zahedy Saleh mengutarakan adanya defisit gas di PLN. Menurut Darwin, kebutuhan  gas PLN sesuai APBN 2011 adalah sebesar 389,3 TBTU (Triliun British Thermal Units). Namun kalau melihat kondisi terakhir, kebutuhan gas PLN tersebut tampaknya tidak akan dapat terpenuhi akibat keterlambatan operasi fasilitas terapung atau floating storage and regasifikasi unit (FSRU) di Jawa Barat.

Defisit gas yang dialami PLN tersebut, tidak berbeda dengan yang apa dialami oleh industri di sektor riil. Kebutuhan gas PLN saat ini secara nasional mencapai 2.398 miliar british thermal unit per hari (BBTUD), sementara pasokan gas baru yang ada baru mencapai 1.148 BBTUD. Sehingga, terdapat defisit pasokan gas sebesar 1.250 BBTUD.

Kini, banyak pihak berharap agar pemerintah mempertegas aturan ekspor gas bumi, dan lebih mementingkan kebutuhan gas dalam negeri. Tak heran kalau kemudian muncul upaya berbagai pihak untuk melakukan impor gas dari luar negeri akibat kurangnya pasokan gas untuk domestik.

Opsi tersebut memang merupakan salah satu pilihan yang paling me­mungkin­kan. Hanya penyelesaiannya tidak segampang itu. Kontroversi tetap muncul. Misalkan saja upaya PLN untuk mendatangkan gas dari Iran yang ren­cananya akan mulai direalisasikan per 2013 mendatang. Malah, awalnya pe­merintah melalui Kementerian BUMN sempat melarang PLN melakukan impor gas dari luar negeri. Meskipun belakangan pada akhirnya Kementerian BUMN mendukung keputusan PLN tersebut. Sebagian anggota komisi VII DPR juga mengingatkan, agar upaya melakukan impor gas jangan sampai merusak struktur harga gas dalam negeri.

Sebenarnya, seperti apa perban­dingan harga gas di dalam dan di luar negeri? Kalau ditelisik lebih jauh, menurut pihak Badan Pengelola Migas (BP Migas), struktur harga beli gas di dalam negeri yang kurang ekonomis membuat ekspor gas seolah menjadi pilihan yang jauh lebih menguntungkan.

Menurut Kepala BP Migas Priyono, banyak harga beli gas yang nilainya tidak ekonomis. Seperti harga gas yang dibeli dari Blok Tangguh, Papua maupun Blok Grissik, Sumatera Selatan. Nilai beli gas di kedua blok tersebut di bawah harga penjualan gas dari  Blok Natuna B ke Malaysia. Harga beli gas dari Blok Tangguh, Papua maupun Blok Grisik hanya sebesar 3 Amerika Serikat (AS)  (sekitar Rp 24 ribu) per MMBTU (million metric British unit). Di saat yang sama, harga beli gas oleh Malaysia dari Blok Natuna B nilainya di atas  5 dolar AS per MMBTU. Malah, di luar negeri, harga jual gas tidak klurang dari 12 dolar AS per MMBTU.

Dengan alasan seperti itu, maka penjualan gas ke luar negeri alias ekspor, dianggap jauh lebih menguntungkan ketimbang menjualnya di dalam negeri yang hanya sekitar 5,6 dolar AS per MMBTU.
Kebutuhan Gas Global
Persoalan gas, termasuk di dalamnya struktur harga, tidak hanya terjadi di Indonesia. Di luar negeri, permasalahan serupa dialami juga oleh Mesir. Jika saat ini Indonesia sedang berupaya melakukan negosiasi dengan China terkait dengan kontrak jual gas Tangguh yang dipatok sebesar 25 dolar AS per barel selama 25 tahun untuk menjadi sebesar 38 dolar per barel, hal yang sama juga dialami Mesir dengan Israel.

Mesir, sekarang sedang menghadapi ancaman dibawa ke Mahkamah Arbitrase Internasional, terkait dengan rencana negara tersebut yang akan menghentikan ekspor gas ke Israel. Alasannya, Mesir mengalami kerugian akibat mengekspor gas ke Israel yang harganya dipatok sebesar 70 sen hingga 1,5 dolar AS per juta BTU. Harga tersebut jauh di bawah harga resmi internasional yang sebesar 2,65 dolar AS per juta BTU.

Mesir sendiri, acapkali mengalami krisis gas. Pada 2010 lalu misal, warga negara tersebut mengalami kelangkaan pasokan gas. Ketika itu, masyarakat Mesir seolah frustasi setekad pemerintah sempat menghentikan pasokan tabung gas subsidi yang biasanya digunakan masyakat untuk memanaskan suhu ruangan ataupun untuk memasak.
Kebutuhan terhadap gas, memang bukan milik mutlak Indonesia semata. Negara-negara Eropa juga sangat membutuhkan pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Itu sebabnya, ketika Irak mengaku belum memikirkan rencana untuk melakukan ekspor gas dalam rangka menjaga kepentingan domestik mereka, dan Iran membuka keran eskpor gas, negara-negara Eropa melakukan pendekatan ke negara Timur Tengah tersebut.

Munculnya masalah yang terjadi antara Eropa dan Rusia mengenai pasokan gas, membuat Iran menjadi pilihan alternatif yang paling mungkin. Bahkan, raksasa energi dunia seperti Shell, tetap melanjutkan kontrak gas dengan Iran.  Lebih jauh lagi, Iran malah mengusulkan proyek ekspor gas ke Eropa melalui jalur pipa gas Fars Selatan. Di luar itu, Iran juga menandatangani kontrak dengan Pakistan di bidang transfer energi. Dengan bergabungnya India dan Cina dalam proyek ini, maka jalur pipa Iran membenteng menembus kawasan Timur Jauh. Di bidang kerjasama dengan negara tetangga di wilayah Barat, Iran saat ini tengah mengkaji ladang gas kolektif dan independen dengan Irak.

Iran, saat ini dianggap sebagai negara utama yang dapat memenuhi kebutuhan energi di Eropa. Tak heran, kalau PLN juga berupaya mendekati Iran untuk melakukan impor gas dari negara pimpinan Ahmadinejad tersebut. Pada tahap awal, yakni 2013, PLN rencananya akan mengimpor gas dari Iran sebanyak 750 Million Metric Standard Cubic Feet per Day (mmscfd) sebagai bahan baku energi listrik. Meskipun ada kemungkinan harganya bisa lebih mahal dari PGN, tetapi fleksiblitas harga yang dapat disesuaikan dengan harga minyak mentah dunia, merupakan keuntungan tersendiri buat PLN. Apalagi, dengan pemakaian gas sebagai bahan baku energi listrik, PLN dapat berhemat hingga Rp60 triliun per tahun.

Di Asia, selain Indonesia,  ada India dan Pakistan yang sama-sama mendekati Iran untuk mendapat pasokan gas. Dua negara tersebut, rencananya akan mengimpor gas masing-masing sebesar 90 juta mmscfd dan 60 mmscfd dengan kisaran harga diperkirakan sekitar 7,2 dolar AS per MBTU.■

Author :

Tags : Fokus Utama

1 Komentar

Berikan komentar anda

Top