Mengintip Pembangunan Kelistrikan di Negeri Singa

Mengintip  Pembangunan Kelistrikan di Negeri Singa

Singapura merupakan salah satu negara yang dianggap paling maju di kawasan Asia Tenggara, termasuk dalam hal inovasi kelistrikan. Seperti apa Singapura membangun sistem kelistrikannya?

Negeri Singa, Singapura yang dulu dikenal masyarakat Indonesia sebagai Tumasik, merupakan salah satu negara  terdepan di kawasan ASEAN. Dengan posisi yang sangat strategis, Singapura menjadi salah satu wilayah terdepan dalam perdagangan internasional di Asia Tenggara. Tak heran kalau pelabuhan Singapura menjadi salah satu dari lima pelabuhan yang dianggap paling sibuk di dunia.

Liberalisme ekonomi Singapura, pada akhirnya juga berdampak besar pada sistem kelistrikan di negara tersebut. Tarif listrik di negara yang berdasarkan hasil survei RBC Wealth Management 2011 lalu dinyatakan sebagai tempat yang paling diincar oleh para miliarder dunia tersebut, relatif lebih mahal kalau diban-dingkan dengan tarif listrik pada sebagian negara ASEAN lain. Rata-rata harga listrik di negara tersebut sekitar Rp1.500 per kilowatt hour (kwh).

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang rata-rata dalam kondisi ekonomi normal mampu mencapai di atas 7% per tahun, tentu saja dibutuhkan pertumbuhan listrik sekitar 1,5 - 2 kali lipat dari target pertumbuhan ekonomi tersebut. Artinya, Singapura harus  menggenjot pertumbuhan listriknya rata-rata 10,5% sampai 14% per tahun. Tidak mudah memang, apalagi pada 2017 mendatang, kebutuhan listrik di negara dengan populasi penduduk sekitar 5 juta jiwa tersebut diperkirakan akan mengalami penambahan menjadi 2.000 megawatt (MW).

Tak heran, demi untuk memenuhi kebutuhan listriknya, salah satu negara  yang paling diminati oleh para miliarder dunia sebagai lokasi tinggal dan lokasi bisnis tersebut berencana melakukan impor listrik dari negara lain. Pada 2013, tender impor listrik tersebut rencananya akan mulai diprogramkan. Tak hanya Indonesia yang rencananya akan diwakili oleh b’right Pelayanan Listrik Nasional (PLN)  Batam, rencana tersebut juga diminati perusahaan listrik asal Malaysia.

Sejauh ini, Singapura  yang memiliki populasi penduduk sekitar 5 juta jiwa, dianggap sebagai sala satu negara terbaik di ASEAN dalam hal kecukupan penyedia-an daya listrik secara nasional, dan juga dari sisi penetapan harga listrik. Singapura yang memiliki pendapatan per kapita nasional sekitar 41.430 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp373 juta tersebut menggunakan skema penetapan tarif regional yang berbeda antar-satu daerah dengan daerah lain atau menggunakan skema feed in tariff.

Dengan skema National Electrici-ty Market of Singapore (NEMS), otoritas kelistrikan Singapura, yakni Energy Market Authorithy of Singapore (EMA) terbukti mampu mengelola dan mengatur distribusi kelistrikan di negara tersebut dengan baik. NEMS memang dirancang oleh EMA dalam rangka menciptakan efisiensi pasokan listrik dengan harga yang kompetitif. Komersialisasi dan divestasi kelistrikan yang dijalankan sejak 1995 di Singapura, mendorong peran swasta untuk memperkuat sektor kelis-trikan negeri Singa tersebut.

Di bawah Undang-Undang Kelistrikan Singapura, EMA selaku regulator listrik negara tersebut mengatur sedemikian rupa pasar dan mekanisme kelistrik-an  Singapura.  Selain lisensi dari EMA, perusahaan-perusahaan listrik di Singapura harus  mematuhi kode etik sistem kelistrikan di sana dan menerapkan bisnis tenaga listrik sesuai dengan standar yang berlaku.

Dalam struktur NEMS, Singapura membagi pasar listriknya menjadi menjadi wholesale market (grosir) dan pasar ritel.  Wholesale market lebih ditujukan untuk menjaga keamanan cadangan pasokan listrik secara nasional di negara tersebut dengan mekanisme transaksi listrik secara lelang dengan tujuan penyedia-an listrik dalam jangka panjang dalam skema energy market company (EMC). Contohnya adalah rencana lelang impor impor listrik melalui sistem tender yang akan diikuti Bright PLN Batam dan perusahaan listrik asal Malaysia pada 2013 mendatang. Sementara, pasar ritel listrik lebih ditujukan pada mekanisme transaksi listrik kepada pelanggan akhir dengan beberapa skema jual beli listrik.

Kendati demikian, harus diakui ketersediaan listrik di negara tersebut relatif terbatas. Guna memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, Singapura pun melakukan impor listrik dari negara lain, diantaranya rencana pembelian listrik dari Johor Baru, Malaysia, dan rencana pembelian listrik negara tersebut dari Batam.


Listrik di Singapura tidak pernah menjadi kekhawatiran investor untuk melakukan investasi di sana.


Tak heran, walaupun kebutuhan listrik di Singapura dari waktu ke waktu terus bertambah seiring dengan peningkatan kapasitas perekonomian di negara tersebut, namun kesediaan listrik di negara tersebut tidak pernah menjadi kekhawatiran investor untuk melakukan investasi di sana.



Inovasi Kelistrikan

Sebagai salah satu negara yang dianggap terdepan dalam pengelolaan sistem kelistrikan di Asia Tenggara, Singapura banyak melakukan terobosan penting dalam bidang kelistrikan. Diantaranya, pengolahan sampah menjadi energi listrik, pengolahan kotoran manusia menjadi energi listrik, pembuatan bangunan zero energi, hingga pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung.

Sejak 2008 lalu, Singapura telah mampu memasok 3% listrik dari total kebutuhan listrik nasionalnya yang berasal dari bahan bakar sampah yang diproduksi melalui empat stasiun pembakar sampah. Alhasil, pada sampah padat Singapura mencapai 7.676 ton tiap harinya sejak 2001, perlahan-lahan berhasil diatasi.

Pada 2005, Singapura membangun pabrik bio-metanisasi. Pabrik tersebut meproses sampah makanan dan sampah organik dari hotel, dapur, dan pabrik makanan menjadi energi bersih dan kompos. Melalui proses yang disebut bio-metanisasi, bakteri kemudian menguraikan sampah makanan menjadi kompos serta gas metan. Gas itulah yang kemudian ditampung dan dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin besar bertenaga gas yang dapat menghasilkan listrik.

Terobosan lain dilakukan oleh para ahli Nanyang Technological University, Singapura yang berhasil menciptakan toilet untuk mengubah kotoran manusia menjadi listrik dan pupuk.
Untuk menghasilkan listrik dan pupuk, toilet tersebut akan memisahkan komponen padat dan cair. Melalui sistem pembuangan, limbah cair akan dikirim ke fasilitas pengolahan tempat nitrogen, fosfor, dan potasium akan dipanen. Pada saat yang sama, kotoran tersebut akan dikirim ke bioreaktor yang kemudian diolah untuk menghasilkan biogas yang kaya metana. Metana nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pengganti gas untuk memasak maupun diubah menjadi listrik.

Singapura juga tengah melakukan uji coba smart grid yang telah memasuki fase kedua. Smart grid tersebut memungkinkan pasokan listrik di Singapura dari pembangkit listrik yang dibangun pelanggan ke jaringan milik perusahaan pembangkit listrik. Kini, beberapa pelanggan listrik, baik industri maupun masyarakat Singapura, telah mengoperasikan pembangkit sel surya atau kincir angin.

Seiring dengan era green building,  di Singapura kini dibangun sebuah kompleks bangunan yang disebut zero energy building (ZEB) atau bangunan nol energi  yang dibangun oleh Building and Construction Academy (BCA). Disebut ZEB karena  bangunan tersebut sehari-hari menggunakan panel tenaga matahari sebagai sumber energi.

Selain menggunakan tenaga mata-hari sebagai sumber energi, bangunan tersebut juga menampung air hujan untuk digunakan sebagai toilet. Hampir tidak ada sisi gedung yang tidak terkena sinar matahari sehingga menghemat penggunaan listrik untuk penerangan, terutama pada siang hari. Tetapi interior bangunan tetap mendapat cahaya alami. 

Dengan hitung-hitungan tarif listrik sebesar 21,69 sen per kWh, bangunan tersebut berhasil menghemat penge-luaran hingga 84.000 dollar Singapura per tahun.

Inovasi menarik lain yang dilakukan Singapura adalah rencana pembangun-an sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung pertama di Singapura dan di Asia Tenggara. Rencananya, Badan Pembangunan Ekonomi Singapura (EDB) dan badan Pengelola Air Nasional Singapura (PUB)  akan membangun PLTS bernilai 8,6 juta dolar AS. Pilot project PLTS terapung tersebut akan dibangun di waduk penambungan air berkapasitas 2 MW.


Author :

Tags : Manca Negara

0 Komentar

Berikan komentar anda

Top