Ekspansi Perusahaan Kelistrikan Global

Author : Administrator
Ekspansi Perusahaan Kelistrikan Global Sektor kelistrikan dan energi, menjadi salah satu lokomotif utama yang membawa perubahan arah perekonomian sebuah negara. Fakta empiris menunjukkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebuah negara sebesar 1% negara ter­­sebut membutuhkan pertumbuhan kelistrikan sebesar 1,5%-2%.  Tak heran, kalau kemudian negara-negara yang sektor energi dan sistem kelistrikannya cukup mapan, mampu berperan besar dalam kancah internasional.

Salah satu negara yang dapat di­­ja­di­kan contoh seperti itu adalah Rusia. Di Negeri Beruang Merah tersebut, Gaz­prom memainkan peranan penting dalam mendukung struktur kemandirian energi sekaligus sistem kelistrikan di negara bekas Uni Sovyet tersebut. Per­usahaan energi Rusia tersebut fokus pada pengembangan energi gas. Pasokan gas sebagian besar negara-ne­gara di Eropa sangat bergantung kepada pengiriman gas dari Gazprom. Rata-rata pasokan gas Gazprom ke Eropa hampir mendekati 60 juta meter kubik per hari.

Dengan peran penting Gazprom di Ru­sia, negara-negara besar Eropa “tidak berani” bersikap bermusuhan dengan ne­gara tersebut. Suatu ketika, saat Gaz­prom atas peran pemerintah Rusia meng­hentikan pasokan gas ke Uni Eropa, industri dan perekonomian negara-negara Uni Eropa terancam. Pasalnya, negara-negara Uni Eropa terbiasa meng­­konsumsi gas dari Gazprom baik untuk kebutuhan pembangkit listrik mau­pun untuk kebutuhan energi me­reka. Jadi, ketika pasokan gas dari Gazprom terhenti, maka musim dingin di Eropa bisa berubah menjadi bencana tan­pa ada pasokan gas tersebut.

Selain perusahaan energi, Rusia juga me­miliki Rosenergoatom, perusaha­an yang bergerak pada bidang pembang­kitan tenaga nuklir. Sejak 2010 lalu, Rose­nergo­atom telah melakukan tero­bosan besar dengan membangun pem­­bangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) te­rapung. Rencananya, perusahaan terse­but akan membangun sekitar 7 PLTN terapung di Rusia.
Inovasi sektor kelitrikan berbasis nuklir tersebut, tak ayal langsung di­mi­nati sejumlah negara. Sekitar 20 ne­gara dari benua Asia, Afrika, hingga Eropa menyatakan minat besar untuk bekerjasama dengan perusahaan asal Rusia tersebut untuk melakukan pem­bangunan PLTN terapung. Indonesia juga disebut sebagai salah satu negara yang di­nyatakan berminat terhadap teknologi kelistrikan PLTN dari perusahaan listrik Rusia tersebut. Di Asia, raksasa baru ekonomi dunia, China, juga menyatakan berminat mengembangkan teknologi dari Rosenergoatom tersebut.

Wilayah-wilayah yang mengalami kekurangan supply energi listrik, di­ha­­­rap­kan bisa memanfaatkan tekno­lo­gi tersebut serta mendukung pro­yek-proyek energi mandiri. Selain mam­pu memproduksi listrik, PLTN te­ra­pung tersebut dikatakan juga bisa mem­produksi air bersih. Artinya, ada man­faat ganda dari pembangunan PLTN te­rapung tersebut. Di Rusia, PLTN Terapung pertama yang menjadi pilot roject tersebut memiliki kapasitas 70 MW listrik dengan biaya investasi sekitar 200 juta dolar Amerika Serikat (AS). Na­mun, diperkirakan dalam jangka wak­tu tujuh tahun, investasi tersebut modal­nya akan kembali.

Di Jerman, sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang energi dan ke­­listrikan juga memberikan kontribusi po­­sitif terhadap sektor energi dan ke­listrikan. Jerman selama ini dikenal se­bagai negara yang memiliki sejumlah pe­rusahaan pemroduksi turbin angin yang dimanfaatkan untuk memasok ke­­butuhan listrik dunia. Jerman ber­kon­tribusi sekitar 32% terhadap listrik te­naga angin yang dihasilkan secara glo­bal. Ada tiga besar perusahaan listrik Jerman yang menggunakan teknologi dari perusahaan Enercon, Multibrid, dan Repower.
Perusahaan-perusahaan energi dan ke­listrikan Jerman tak hanya berkembang di dalam negeri. Sejumlah perusahaan Jerman juga mengembangkan sayapnya ke luar negeri. Salah satunya, Siemens. Per­­usahaan yang banyak memasok tur­­bin angin untuk kelistrikan ini cukup lama berkembang di Indonesia serta mengem­bangkan bisnis kelistrikan di Tanah Air.  

Di negara Eropa lain, perusahaan-per­usahaan asal Prancis juga berperan besar dalam mengembangkan sektor ke­listrikan di negara tersebut. Pe­rusaha­an listrik Prancis Electriciter de France (PEDF), berkontribusi signifikan ter­hadap upaya me­ngembangan ekspor teknologi PLTN dari Prancis ke sejumlah negara, baik Eropa maupun Asia dan Afrika. Se­­tiap tahun, sejumlah perusahaan lis­trik di Prancis mampu memberikan kon­tribusi terhadap devisa negara me­­lalui ekspor listrik ke beberarapa ne­gara Eropa hingga mencapai 3 miliar dolar AS.
Perusahaan-perusahaan yang ber­ge­rak di bidang teknologi kelistrikan asal Prancis juga mengembangkan bisnisnya ke luar negeri, termasuk ke Indonesia. Di Indonesia, ada Total, dan Alstom yang berbisnis teknologi ke­listrikan di Indonesia. Alstom bah­­kan sempat mengikuti tender ke­lis­trikan untuk pembangkit listrik di Jawa Tengah. Bahkan, perusahaan Mul­tinasional asal Prancis Schneider Electric telah mengembangkan bisnis distribusi listrik, otomatisasi, hingga pengelolaan manajemen kelistrikan di Indonesia sejak 1973.

Perusahaan-Perusahaan Asia Terus Bangkit
Dalam konstelasi industri energi dan ke­listrikan secara global, perusahaan-per­­usahaan energi dan kelistrikan asal Asia juga berperan cukup besar. Di­antaranya perusahaan-perusahaan asal Jepang. Di Jepang, seluruh distribusi listrik ke negara-negara bagian di Je­pang peranannya mayoritas dilakukan oleh swasta.
Ada sepuluh perusahaan listrik swas­ta di Jepang yang berkontribusi terhadap pem­bangunan sektor kelistrikan negara tersebut.Masing-masing adalah Tokyo Electric Power Company (TEPCO), Oki­na­wa Electric Power Company, Kyu­shu  Electric Power Company, Chubu Electric Power Company, Tohoku Elec­tric Power Company , Shikoku Elec­tric Power Company, Kansai Electric Power Company (KEPCO),  Hokuriku Elec­tric Power Company (RIKUDEN),  Hokkaido Electric Power Company (HEPCO), serta Chugo­ku Electric Power Company (Chuden). Seluruh operator penyedia listrik regional di Jepang ter­sebut, meng­operasikan pembangkit nuklir, kecuali Okinawa Electric Po­wer Com­pany. Semua operator re­gional listrik tersebut tergabung dalam Federation of Electric Power Com­panies di Jepang.

Sebelum mengalami gempa tsunami yang memengaruhi bisnis perusahaan-perusahaan listrik dan energi di Jepang, perusahaan-perusahaan listrik asal Jepang gencar melakukan investasi bidang kelistrikan dan energi di negara-negara lain. Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi traget ekspansi bisnis mereka. Termasuk partisipasi perusahaan-perusahaan tersebut pada proyek infra­struktur kelistrikan 10 ribu mega watt (MW) di Tanah Air ataupun pengembangan ke­lis­trikan lain.

Proyek-proyek investasi listrik dan energi oleh perusahaan Je­pang di Indonesia diantaranya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Siguragura, PLTA Tangga, dan Pabrik Peleburan Aluminium Kuala Tanjung. Dalam proyek-proyek tersebut ada 12 perusahaan penanaman modal asal Jepang yang terlibat. Kyushu Electric Power Company dan Mitsubishi merupakan dua diantara beberapa perusahaan Jepang yang gencar me­lakukan ekspansi ke luar Jepang.

Peran perusahaan-perusahaan ke­listrikan dan energi Jepang untuk terus melanjutkan bisnisnya, juga didukung sepenuhnya oleh pemerintah Jepang. Pemerintah negeri Matahari Terbit tersebut, tidak segan turun tangan membantu mengatasi masalah yang terjadi pada perusahaan kelistrikan di Jepang. Pada awal Desember 2011 lalu misal, Pemerintah Jepang be­ren­cana menguasai dua per tiga saham ke­pemilikan di Tokyo Electric Power Co (TEPCO), ketika perusahaan listrik swasta itu membutuhkan dana besar untuk program restrukturisasi bencana nuklir pada Maret lalu. Langkah Tokyo untuk menasionalisasi TEPCO kian mendekati kenyataan. Pemerintah negara itu, me­ngaku siap menyuntikkan dana sebesar 13 miliar dollar AS ke perusahaan listrik terbesar di Asia secepatnya pada musim panas mendatang. Pemerintah Jepang juga tengah mempertimbangkan un­tuk menyuntikkan dana segar lainnya sebesar satu triliun yen atau setara 12,7 miliar dollar AS.
Selain Jepang, negara di Asia yang dianggap memiliki potensi besar untuk men­jadi salah satu kekuatan ekonomi baru di dunia, yakni India, juga gencar mendorong perusahaan-perusahaan ke­listrikan dan energi mereka untuk terus mengembangkan bisnisnya, termasuk ke luar India.

Sejumlah perusahaan listrik di India, terutama perusahaan listrik swasta, sangat aktif melakukan pembangunan pembangkit listrik, termasuk pembangkit berbahan baku batu bara. Salah satu perusahaan listrik swasta yang berperan cukup besar terhadap pengembangan pembangkit listrik berbahan baku batu bara di India adalah Essar Power.
Perusahaan listrik swasta terbesar kedua di India tersebut telah melakukan ekspansi bisnis ke Indonesia dengan melakukan perjanjian pembelian tambang batu bara Aries. Upaya itu membuka kesempatan Essar Power memiliki ketersediaan batu bara yang jumlahnya di­­­perkirakan mencapai 100 juta ton dengan cadangan mencapai 64 juta ton.

Berdasarkan informasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), belakangan ini, perusahaan-perusahaan kelistrikan dan energi asal India me­mang gencar melakukan investasi ke Indonesia. Khusus­nya investasi pada sektor per­tambangan batu bara yang me­mang dibutuhkan oleh negara dengan penduduk terbesar ke dua di dunia terse­but.

Tak hanya batu bara, pa­nas bumi juga menjadi salah satu sektor yang cukup diminati oleh per­usahaan-perusahaan kelistrikan dan energi asal India. Salah satunya oleh Tata Power Company Ltd, perusahaan energi asal India yang tampaknya akan siap menggarap proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Sorik Merapi. Di Indonesia, Tata Power berencana mengembangkan PLTP bertenaga 9.500 MW sampai tahun 2025. PLTP Sorik Merapi, rencananya akan menjadi proyek pertama dengan kapasitas 55 MW dengan estimasi biaya pengembangan sekitar US$ 2-3 juta per MW dan biaya produksi listrik sekitar Rp 800-900 per kWh.■


0 voters

0 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas