Indonesia Bagian Barat Gudang Panas Bumi dan Uranium

Author : Administrator
Indonesia Bagian Barat  Gudang Panas Bumi  dan Uranium

Potensi energi di wilayah Indonesia bagian Barat sangat besar. Sayangnya pemanfaatnya belum optimal dan perlu langkah terobosan untuk merealisasikannya.

Indonesia dianugerahi warisan alam kaya raya. Tak hanya kekayaan keanekaragaman hayati tetapi kekayaan energi. Indonesia bagian Barat meliputi Pulau Sumatra, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat menyimpan potensi energi besar. Sayangnya pemanfaatannya belum optimal. Oleh karena itu, potensi besar energi tersebut perlu pengelolaan lebih lanjut.

Wilayah Indonesia Barat menyimpan potensi energi seperti minyak bumi, batu bara, dan panas bumi. Sumber daya energi alternatif pun tak kalah volumenya. Wiayah Sumatra Selatan yang dikenal dengan sebutan Bumi Sriwijaya itu memiliki potensi energi panas bumi besar. Bahkan pakar pakar memprediksi Sumsel merupakan salah satu wilayah yang memilliki cadangan geotermal terbesar di duna.

Kalimantan tidak kalah cadangannya dengan Sumatra. Bahan baku energi nuklir yang memiliki nilai ekonomi luar biasa tersimpan di pulau terbesar Indonesia itu. Jika potensi uranium dapat dimanfaatkan, tak ada cerita Indonesia mengalami defisit pasokan listrik. Tujuan Indonesia untuk meciptakan kesejahteraan masyarakat makin terbuka lebar.

Namun pemerintah daerah dan pusat pun belum sepenuhnya memiliki animo besar untuk mengembangkan pemanfaatan potensi energi tersebut. Mereka terbentur persoalan klasik yakni modal, sumber daya manusia, dan teknologi. Persoalan tersebut sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Dengan keseriusan dan upaya keras, serta dukungan semua pihak, pemanfaatan potensi energi yang terpendam bisa segera direalisasi.

PT PLN (Persero) telah melaksanakan amanah untuk memanfaatkan potensi energi yang terpendam. Namun potensi yang telah dimanfaatkan masih jauh lebih kecil dari potensi yang belum dimanfaatkan. Karena itu, kalangan investor baik domestik maupun mancanegara harus dilibatkan. Tentunya keterlibatan meraka yang dipertimbangkan dari segi keekonomian dan pemanfataan bagi masyarakat.

Sejak tujuh tahun lalu atau tepatnya 2004, Pemerintah Daerah Sumatra Selatan (Sumsel) telah berupaya mengembangkan daerahnya sebagai salah satu lumbung energi kebutuhan nasional. Pencanangan tersebut tak sekadar slogan. Sejumlah langkah telah diambil Pemda Sumsel. Di antaranya dengan membentuk lembaga riset unggulan strategis nasional Sumsel. Untuk merealisasikan itu, pemda Sumsel juga menggelar sejumlah seminar energi nasional. Sejumlah investor pun mulai melirik Sumsel. Mereka tertarik untuk turut terlibat dalam pemanfaatan dan pengembangan potensi energi di Sumsel.

Kepada Majalah Listrik Indonesia Gubernur Sumsel Alex Noerdin pernah mengatakan bahwa Sumsel memiliki potensi energi panas bumi (geotermal) terbesar kedua di dunia. Wilayah Sumsel diprediksi memiliki potensi geotermal mencapai 1.000 megawatt (MW) lebih. Potensi geotermal Sumsel itu hanya bisa dikalahkan salah satu wilayah di Amerika Serikat yang memiliki potensi geothermal sebesar 1.300 MW. “Itu berdasarkan hasil penemuan potensi geothermal terbaru di Rantau Dadap, Muara Enim, Sumsel,” ucap Alex.

Di wilayah Sumsel, kini terdapat sekitar 230 Kuasa Pertambangan (KP). Terdapat 11 perusahaan yang mengelola pertambangan berdasarkan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), satu perusahaan melakukan usaha pertambangan dalam bentuk kontrak karya (KK), dan satu perusahaan lag, melakukan usaha pertambangan berdasarkan surat izin pengelolaan pertambangan (SIPP) yang sedang dalam proses menjadi KK.

Untuk batu bara, menurut Kemen­terian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sumsel memiliki potensi ca­dangan batu bara sebesar 22,7 miliar ton atau sekitar 48% dari cadangan nasional. Tak hanya itu, Sumsel tercatat memiliki cadangan minyak bumi yang cukup besar yaitu sebesar 5.034.082 metric stock tank barrel (MSTB).

Namun, potensi geotermal, batu bara, maupun minyak bumi di Sumsel masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Misalnya saja minyak bumi, dari cadangan minyak bumi Sumsel sebesar 5.034.082 MSTB, saat ini ekploitasi yang dilakukan dalam kurun waktu 1998-2002 baru mencapai rata-rata sebesar 3.718.720 barrel perhari.

Demikian juga dengan batu bara, dari potensi 22,7 miliar ton, produksi batu bara Sumsel baru mencapai 9,8 juta ton per tahun. Sementara itu, untuk geotermal membutuhkan nilai investasinya cukup besar untuk memanfaatkan energi tersebut agar optimal. “Dibutuhkan investasi senilai US$1.770 juta,” jelas Alex Noerdin.

Persoalan investasi,memang bukan persoalan mudah. Menurut Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Nasri Sebayang dalam seminar nasional bertajuk Outlook Pasar Keuangan dan Ekonomi Indonesia akhir November lalu, untuk membangun infrastruktur kelistrikan di berbagai daerah dibutuhkan peran perbankan. Apalagi, sekarang di Indonesia masih terjadi ketidakseimbangan antara supply dan demand kelistrikan.

Lebih jauh menurut Nasri, di wilayah operasi PLN Indonesia Barat, kebutuhan listrik per tahun rata-rata mencapai 10,2%. Itu sebabnya, untuk Indonesia Barat, PLN berencana melakukan penambahan pembangkit dengan kapasitas 12.365 MW hingga 2019 mendatang.

PLN berencana mengembangkan beberapa sistem transmisi utama, termasuk di Indonesia Barat. Di antaranya, Sistem Sumatra 275 kV, meliputi Sumatra Bagian Selatan-Sumatra Barat-Riau-Sumatra Bagian Utara yang dilaksanakan pada 2013. PLTU Meulaboh-Sigli-Lhokseumawe pada 2016. Serta Sistem Kalimantan 150 kV yang meliputi Kalsengteng-Kaltim pada 2012, Kalbar pada 2016, dan Kalbar-Kalselteng pada 2016.

“PLN juga berencana untuk membangun kabel dari Sumatra ke Jawa berkapasitas 3.000 MW yang akan dikirim lewat kabel bawah laut. Tapi baru akan terealisasi pada 2016,” terang Nasri.

Mismatch Sumber Energi
Kendati pusat beban listrik umumnya ada di wilayah Jawa dan Bali, namun sumber energi primer (gas dan batu bara) terletak di luar Pulau Jawa dan Bali, termasuk wilayah operasi PLN Indonesia Barat. Sehingga, terjadi mismatch sumber energi. Hal inilah yang harus dijembatani. Jika berhasil diatasi, persoalan kelistrikan bisa membawa dampak positif. Tak hanya untuk pemenuhan kebutuhan listrik, tetapi juga peningkatan ekonomi di wilayah sumber energi tersebut.

Itu sebabnya, selain Sumatra Selatan yang sudah berbenah menjadi lumbung energi nasional, daerah-daerah lain di wilayah operasi PLN Indonesia Barat juga mulai berbenah. Salah satunya Kalimantan Barat (Kalbar). Kalbar berupaya mengoptimalkan sumber daya energi yang ada di daerah mereka. Pemerintah daerah Kalbar, saat ini berupaya mengoptimalkan sumber daya energi alternative di wilayah tersebut. Diantaranya energi air, energi surya, energi panas bumi, termasuk biofuel.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (DJLPE), Departemen ESDM, Direktorat Geologi dan Sumber Daya Mineral (DJGSM), serta PT PLN (Persero), Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki potensi batu bara sebesar 186,12 juta ton. Selain itu, Kalbar juga menyimpan potensi mikrohidro yang cukup besar. Total energi mikrohidro di Kalbar, diperkirakan mencapai 2.562,9 MW.

Yang paling fenomenal, berdasarkan hasil penelitian Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Provinsi Kalbar diprediksi menyimpan potensi uranium yakni bahan bakar untuk energi nuklir sebesar 24,112 ton. Ditengarai, cadangan uranium tersebut bisa digunakan untuk pasokan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir selama 150 tahun.

Pemda Kalbar kini tengah melakukan tahap studi kelayakan untuk melirik kemungkinan daerah tersebut membangun Pusat Listrik tenaga nuklir (PLTN). Kabarnya, potensi uranium Kalbar sempat pernah dilirik India dan Amerika untuk dieksploitasi. Kini, pemerintah Kalbar terus berupaya mempromosikan sumber daya energi di daerah mereka. Upaya ini, merupakan salah satu bagian promosi Provinsi Kalbar untuk menarik masuk investor ke daerah tersebut.

Selain Sumsel dan Kalbar, daerah lain di wilayah operasi PLN Indonesia Barat, juga menyimpan banyak sumber energi baik fosil maupun energi alternatif. Di wilayah Sumatera Utara contohnya yang gencar mengembangkan pembangunan Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS), mikrohidro, serta terus diupayakan pemetaan sumber-sumber energi lain.

Pada 2009, Pemda Sumatra Utara (Sumut) mengaku telah membangun sekitar 250 unit PLTS yang tersebar di Kabupaten Langkat sebanyak 56 unit, Simalungun sebanyak 66 unit, serta di Toba Samosir sebanyak 128 unit. Pada 2010, daerah tersebut juga berenacana membangun sebanyak 1.151 unit PLTS pada 20 desa di Tapsel, 1.902 unit di 55 desa di Padang Lawas Utara, 230 unit di dua desa di Nias, 100 unit di dua desa di Karo, 481 unit di 10 desa di Dairi, 590 unit di 11 desa di Simalungun.

Daerah-daerah lain di wilayah operasi PLN Indonesia Barat juga melakukan hal yang sama. Hanya, mengapa potensi dan cadangan energi yang ada di daerah tersebut masih belum bisa dimanfaatkan secara optimal? Padahal, dari sisi permintaan listrik, potensi luar biasa besar. Rasio elektrifikasi yang baru sekitar 65%, menjadi indikator masih besarnya potensi daya serap masyarakat terhadap listrik di Indonesia. Belum lagi permintaan listrik dari sektor industri. Bahkan, berdasarkan data PLN, pertumbuhan permintaan tenaga listrik di Indonesia, saat ini sebesar 1,5 sampai 2 kali pertumbuhan ekonomi.

Ada beberapa hal yang menjadi kendala belum optimalnya pemanfaatan sumber energi tersebut. Pertama, harga jual listrik yang masih di bawah harga keekonomian sehingga tetap disubsidi pemerintah. Kondisi itu, pada akhirnya membuat investor enggan melakukan investasi kelistrikan.

Kedua, adanya mismatch antara sumber energi dengan pusat beban. Untuk yang satu ini, PLN memang telah mencoba membangun sistem transmisi dari Sumatra ke Jawa melalui kabel bawah laut. Ketiga, persoalan keterbatasan pendanaan investasi yang tentunya membutuhkan peran lembaga keuangan khususnya perbankan.

Menurut Fabby Tumewa, pengamat kelistrikan dari Institute for Essential Services Reform, sementara ini yang dapat dilakukan pemerintah hanya melalui reformasi subsidi listrik dan reformasi dalam tarif dasar listrik (TDL). Pemerintah harus mengupayakan agar susidi listrik tepat sasaran, terbatas, efisien dan transparan. “Selain itu, jangka waktu subsidi juga harus terukur,” terang Fabby.

Dari sisi TDL, tarif harus diupayakan mencapai suatu nilai yang bisa membuat investor untung. Dengan tarif listrik yang berlaku sekarang, bagi investor swasta, justru merupakan disinsentif yang merugikan. Kalaupun pemerintah menalangi, pada akhirnya hal itu hanya akan menjadi beban APBN.Sehingga, ke depan subsidi listrik harus dilepas.

Solusi lain yang bisa dilakukan, adalah melalui subsidi energi alternatif. Untuk mengoptimalkan energi alternatif di Indonesia Barat, pemerintah jangan ragu memberikan subsidi terhadap energi alternatif. Jika harga energi alternatif seperti panas bumi, biomassa, dan mikrohidro harganya setara dengan pembangkit dari minyak bumi, permintaan terhadap listrik dari energi alternative akan meningkat.

Dan, pada akhirnya akan terjadi lonjakan permintaan yang pasti akan direspon baik oleh investor.
Pemanfaatan sumber daya energi secara maksimal, memang membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Jika ada jaminan kepastian berinvestasi baik secara manfaat ataupun kesinambungan investasi, investor pasti akan tertarik berinvestasi kelistrikan pada berbagai daerah di Indonesia, termasuk di wilayah kerja PLN Indonesia Barat. Jangan lupa, infrastruktur kelistrikan merupakan salah satu elemen terpenting bagi pengembangan ekonomi suatu daerah. Akan banyak manfaat ikutan secara ekonomis pada daerah-daerah tersebut.



1 voters

0 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas