PT Masaji Prayasa Cargo Dukung Pembangunan Infrastruktur Ketenaga Listrikan

PT Masaji Prayasa Cargo  Dukung Pembangunan Infrastruktur  Ketenaga Listrikan

Sebagai negara yang sedang berkembang, konsumsi listrik Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Tingkat pertumbuhan kebutuhan listrik nasional mencapai 7%. Pertumbuhan kebutuhan listrik yang sangat pesat terutama Pulau Jawa dan Bali.

Peningkatan konsumsi dan kebutuhan listrik telah pula me­rambah ke hampir seluruh wi­layah Indonesia. Begitu pula konsumsi listrik Indonesia bagian Barat yang meliputi Pulau Sumatra dan sebagian Kalimantan.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat, PT PLN (Per­sero) dan pemerintah melak­sa­nakan proyek 10.000 megawatt (MW) baik tahap I maupun tahap II. Dengan proyek tersebut, PT. PLN terus membangun sejumlah pembangkit listrik yang tersebar di berbagai daerah. Tak semata itu, pem­bangunan transmisi dan distribusi listrik pun perlu mendapat dukungan.

Dalam pembangunan pem­bangkit listrik, tidak semudah yang dibayangkan. Proses awal dari mendatangkan material proyek dari luar negeri hingga membangun sebuah pembangkit memerlukan waktu panjang dan persiapan matang.

Material Proyek terutama yang me­mi­liki berat dan ukuran yang sangat besar seperti transformer, generator stator, generator rotor, turbine dan boiler, yang didatangkan dari beberapa negara asal, sampai di pelabuhan tujuan di Indonesia, hingga ke lokasi proyek di daerah yang dituju sangat membutuhkan dukungan peralatan transportasi dan kualitas sum­ber daya manusia (SDM) yang memadai agar material proyek tersebut dapat tiba di lokasi proyek dengan aman dan tepat waktu.

Salah satu perusahaan freight for­warder di Indonesia yang telah lama ber­kiparah dalam mendukung bidang ketenaga listrikan nasional adalah PT Masaji Prayasa Cargo (PT. MPC). Sebelum melangkah lebih jauh bagaimana kiprahnya, sebaiknya kita mengenal sekilas mengenai PT MPC (www.mpc.co.id)
PT MPC adalah perusahaan freight for­warder yang merupakan bagian dari Samudera Indonesia Group yang berdiri sejak tahun 1980. Kepemilikan perusahaan ini adalah PT. Samudera Indonesia Tbk dan Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan PLN (YPK-PLN).

Pada saat ini PT. MPC dipimpin oleh Masli Mulia (Komisaris Utama) dan Bambang Sumantri (Komisaris), Yudi Riyadi (Direktur Utama), Iryanto H. Hutagaol, Djoko Paryoto dan Atmuzir Murad (Direktur), serta Boni Triparsya (General Manager).

Djoko menjelaskan PT. MPC turut ber­kecimpung dengan proyek pem­bangkit milik PLN didasarkan pada tender terbuka, transparan, dan menjunjung profesionalisme. “Kami mendapatkan proyek karena dinilai dari kemampuan dan pengalaman yang kami miliki serta rencana operasional dan harga yang kompetitif dibandingkan dengan pesaing kami,” katanya.

Dalam pemaparannya, Sales Manager PT. MPC, Gamma Agus Wardijanto me­ngatakan bahwa PT. MPC hingga kini memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam menangani sejumlah Proyek Pembangunan dan Perawatan Infrastruktur yang ada di Indonesia. Sejumlah proyek bidang ketenaga listrikan, petrokimia, migas, serta industri skala besar lainnya telah menjadi target operasi perusahan PT MPC.

“Lingkup kerja yang dilakukan PT. MPC tergantung dari permintaan customer, kondisi material proyek dan lokasi setiap proyek. Jasa yang dapat diberikan oleh PT. MPC terdiri dari peren­ca­naan, desain operasional, serta harga yang kompetitif dalam pengiriman material proyek dari lokasi asal ke tempat tujuan dengan aman dan tepat waktu,” ujar Gamma.

PT. MPC memberi pelayanan ke­pada customer meliputi transportasi darat, laut, kegiatan bongkar muat di Pelabuhan serta layanan jasa pengurusan kepabeanan. Untuk mendukung kegiatan tersebut perusahaan yang berkantor pusat di Jl. Cilincing Raya No. 17, Jakarta Utara ini memiliki peralatan dan material pendukung yang memadai untuk me­laksanakan transportasi material proyek, baik yang memiliki dimensi dan berat yang standard (general cargo) hingga yang memiliki dimensi dan berat yang besar (heavy lift / oversize cargo).

“Peralatan yang digunakan merupakan milik kami sendiri. Peralatan tersebut kami gunakan untuk mendukung kerja kami di lapangan,” kata Djoko Paryoto yang didampingi oleh Atmuzir Murad dan Bambang Sumantri.
Atmuzir Murad menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam mendukung proyek ketenaga listrikan nasional, PT. MPC telah lama berkecimpung dalam transportasi material untuk pembangunan pembangkit listrik,

pembangunan transmission line dari Pelabuhan Tujuan di Indonesia ke lokasi proyek serta relokasi transformer dari gardu induk satu ke gardu induk yang lainnya. Tak hanya itu, PT. MPC turut serta berpartisipasi hingga pengadaan layanan jasa angkutan laut dari (ocean freight) dari Pelabuhan Muat (port of loading) di Negara asal hingga ke Pelabuhan Tujuan (port of discharging) di Indonesia.

Proyek PLN dan Swasta
Sebagaimana dijelaskan oleh Atmuzir Murad, Djoko dan Bambang, PT. MPC banyak terlibat dalam mendukung proyek milik PT PLN (Persero). Sebagai salah satu contoh, dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas Combined Cycle milik PLN di Tanjung. Priok, Jakarta, pada 2009-2011, PT. MPC turut mengangkut total cargo dengan volume mencapai +/- 100.000 Freight Ton.

Heavy lift / over dimension cargo itu terdiri dari dua gas turbin dengan berat masing-masing 390 ton, dan dua generator stator dengan berat masing-masing 300 ton. “Lingkup kerjanya meliputi jasa kepabeanan (customs clearance), port handling, transportasi laut (tongkang/ barging), dan serta transportasi darat (land transportation),” jelas Bambang.

Selama rentang 2007-2009, PT. PLN (Persero) membangun beberapa Pembangkit Listrik antara lain pembangkit listrik berbahan bakar batubara di Labuhan, Banten. Untuk mendukung pembanguan proyek tersebut, PT. MPC berpartisipasi dalam melaksanakan transportasi seluruh material proyek termasuk transformer, generator, dan turbin gas. Total volume cargo yang dibawa mencapai +/- 160.000 freight ton.

Terbukti bukan hanya PT. PLN (Per­sero). Banyak perusahaan swasta baik domestik dan asing pun kerap menggunakan jasa PT. MPC. Salah satunya di antaranya proyek Pembangkit listrik tenaga batu bara Tanjung Jati-B yang dimiliki PT. Central Java Power dengan kapasitas 2 x 660 MW, peran PT. MPC juga besar.

Heavy lift / over dimension cargo berupa dua transformer dengan bobot masing-masing diatas 300 ton dan dua generator stator dengan bobot masing-masing 290 ton berhasil dikerjakan dengan baik. Proyek yang dilaksanakan 2003-2005 itu dikerjakan oleh kontraktor Sumitomo Corporation.

Dan juga PT. MPC telah lama mendapat kepercayaan dalam mendukung bidang ketenaga listrikan nasional termasuk Indonesia Bagian Barat antara lain PLTU Tarahan Unit 3 dan 4, Lampung serta PLTU Labuhan Angin, Sibolga, Namun tentunya kepercayaan yang terus meningkat diberikan kepada MPC tidak lepas dari mutu pelayanan yang diberikan, didukung oleh kelengkapan dan kondisi peralatan yang dimilikinya serta rencana operasi. untuk mencapai kepuasan pelanggan.Operasional Manager PT. MPC, Aam Jamaludin memaparkan pihaknyaPT. MPC memiliki berbagai jenis peralatan transportasi dan peralatan angkat dengan kapasitas yang besar.

“Kami memiliki beberapa prime mover dengan kapasitas 320-580 HP, modular trailer “goldhofer” sejumlah 44 axles dengan kapasitas total 1,100 ton yang dibeli dari Negara Jerman secara bertahap pada tahun 1994 hingga tahun 2009 yang dilengkapi dengan girder dengan kapasitas 200 Ton serta fly over bridge (FOB) dengan kapasitas 250 Ton, beberapa low bed and flat bed trailer beberapa crane dengan kapasitas 40-136 Ton, beberapa peralatan jacking dengan kapasitas 25-100 Ton, beberapa forklift, dan beberapa material pendukung lainnya,” jelas Aam.

Dengan adanya proyek 10,000 MW tahap II yang mana diantaranya termasuk beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), PT. MPC telah mengambil langkah antisipasi, demikian dikatakan oleh Aam.

Pembelian prime mover baru dengan kapasitas 580 HP serta menambahan modular trailer sebanyak 10 axles, merupakan salah satu langkah antisipasi tersebut. Dengan dukungan peralatan dan kemampuan perencanaan yang ada, PT. MPC mampu membawa heavy lift /over dimension cargo (transformer, generator, dan turbin gas) ke daerah daratan yang sulit dijangkau, misalnya ke daerah terpencil di pegunungan dengan jalur geografis yang sulit dilalui.

Sebagai perusahaan freight forwarder, PT. MPC terus bekerja secara profesional. Bambang mengatakan pihaknya mengutamakan pelayanan bagi konsumen. “ Kuncinya bagaimana konsumen itu puas. Kami berusaha keras membawa dengan aman dan tepat waktu,” ujarnya.

PT. MPC selalu berusaha keras dalam memenuhi keinginan dan harapan konsumen. Agar apa yang diharapkan tercapai, pihak PT. MPC didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan dalam memberikan perencanaan dan monitoring pekerjaan secara matang dan akurat. termasuk beberapa inovasi dalam teknis operasional disesuaikan dengan kondisi lokasi dan material proyek yang akan diangkut dengan mempertimbangkan faktor keamanan serta efisiensi biaya.

Misalnya, jika konsumen meminta tidak membongkar overhead over pipe rack yang ada di lokasi proyek. “Kami tawarkan menggunakan sliding saja. Namun kami melakukan simulasi terlebih dahulu di lokasi lainnya untuk memastikan keamanannya,” paparnya.

Pada perjalanannya, kinerja PT. MPC masih terbentur oleh beberapa regulasi dari Pemerintah. Antara lain regulasi mengenai batasan pembebanan pada jalan dan jembatan mengacu pada Undang Undang (UU) Pembebanan Jalan dan Jembatan, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian

Perhubungan serta otoritas pelabuhan yang sejauh ini mengacu pada batasan pembebanan per gandar kendaraan dengan empat roda per gandarnya dan satu gandar per sumbu / axle roda. Sementara itu, modular trailer yang dimiliki memiliki gandar dengan delapan roda per gandarnya dan dua gandar per sumbu / axle roda.

“Kami berharap ke depan, adanya regulasi yang memadai untuk transportasi material heavy lift cargo terhadap jalan, jembatan serta Pelabuhan di Indonesia sehingga kami dapat lebih baik lagi dalam membantu pembangunan dan perawatan infrastuktur di Indonesia pada umumnya dan ketenaga listrikan nasional pada khususnya,” papar Djoko.

Pada saat ini, PT. MPC memiliki peralatan yang dapat dipergunakan untuk mengatasi kendala tersebut antara lain fly over bridge (FOB) dengan maksimal bentang 30 m dan girder sehingga dapat mengurangi besarnya pembebanan yang terjadi pada jalan dan jembatan tersebut.

Hambatan lainnya adalah keterbatasan fasilitas luas area penumpukan di dalam Pelabuhan untuk material proyek yang seringkali datang dalam volume yang cukup besar per shipment-nya.
“Akibatnya material proyek yang datang harus direlokasi keluar pelabuhan dan mengakibatkan peningkatan biaya handling di Pelabuhan dari yang diperhitungkan sebelumnya. Ke depannya kami telah siap untuk mengantisipasi persoalan tersebut,” ujar Aam.

Author :

Tags : News, Fokus Utama

0 Komentar

Berikan komentar anda

Top