Krisis ekonomi global hingga saat ini masih terasa di Eropa dan sedikit mempengaruhi ekonomi Asia. Gejolak ekonomi Indonesia yang mungkin saja terjadi juga berpengaruh ke sektor kelistrikan dan energi.
Walaupun ekspor menurun namun secara signifiqan krisis tersebut hingga akhir tahun 2011 tidak terasa. Salah satu buktinya adalah hampir seluruh asumsi makro tercapai dan diperkirakan tahun 2012 pengaruh terhadap ekonomi Indonesia sangat minim.
Pertumbuhan tahun ini diperkirakan cukup stabil di angka 6,7%. Tentu saja ini angka yang optimistis. Menteri Keuangan juga mengatakan pemerintah akan melakukan beberapa langkah strategis untuk mencapai target Pembentukan Modal Tetap Bruto pada 2012 tumbuh sebesar 10%-10,4% berupa peningkatan penyebaran investasi ke sektor utama yaitu pangan, energi dan infrastruktur.
Infrastruktur kelistrikan tentu saja memiliki peran sentral di sektor industri. Dalam peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indramayu, akhir Oktober 2011, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa pernah menyampaikan bahwa pertumbuhan tenaga listrik harus 1,25 kali lebih besar daripada pertumbuhan ekonomi agar bisa memenuhi kebutuhan listrik. Kalau saat ini kapasitas pembangkit yang dikelola PLN sebesar 30 ribu MW, maka diperlukan pertumbuhan ketersediaan pembangkit sebesar 8,4% atau setara 2.500 MW.
Hingga 2015 rencana pembangunan kapasitas pembangkit sebesar 30.000MW masih relevan untuk untuk menyongsong pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. PLN hanya mampu membangun 15.000 MW maka diharapkan pihak swasta atau Independent Power Producer (IPP) berperan.
Apakah kehadiran pihak swasta memang diperlukan? Jawabnya, swasta selain dapat berperan sebagai pihak yang melengkapi kekurangmampuan PLN dalam hal investasi proyek pembangkit juga diharapkan akan memperbaiki kinerja pembangkit dan struktur keuangan PLN serta meningkatkan kemampuan akselerasi rasio eletrifikasi, karena ada kompetisi yang sehat dalam bentuk kinerja antara pembangkit PLN dan swasta.
Perusahaan asing yang masuk ke dalam pasar listrik Indonesia mayoritas berskala besar sehingga sulit diimbangi oleh pemain lokal yang umumnya industri kecil dan menengah. Berbeda dengan negara tetangga Malaysia, IPP disana saat ini menguasai 65% dari pembangkit yang ada, sementara sisanya diselenggarakan perusahaan milik negara. Dan menariknya, dari jumlah tersebut tidak ada satupun berasal dari asing, seluruhnya merupakan swasta lokal.
Minat swasta melakukan investasi di sektor kelistrikan, akan semakin besar bila pemerintah bersedia memberikan rangsangan yang menarik, misalnya harga dasar listrik yang disesuaikan dengan harga keekonomiannya. selain itu, investor yang berani membangun pembangkit di daerah remote harusnya mendapatkan insentif atau harga beli listrik yang lebih baik .
Dalam rang rangka menghemat Rp 2 trilun per tahun, PLN (sebagai pembeli gas) telah melakukan penandatangan kesepakatan atau HoA (Head of Agreement) jual beli gas dengan PT Nusantara Regas (sebagai penjual gas). Gas tersebut akan dipakai untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang.
Siapa pemasok gas kepada PLN? Redaksi menyajikan profil dan kinerja PT Nusantara Regas. Di dalam Fokus Utama kami juga menyuguhkan kiprah EPC lokal yang meretas pentas bisnis dunia yaitu Zug Industry Indonesia.
Seperti biasa, selain tema yang terkesan “berat”, kami tetap hadirkan warna berbeda melalui rubrik–rubrik dengan tema ringan antara lain, banyaknya eksekutif muda perkotaan yang kini menekuni hobi berkebun, kami tampilkan dalam rubrik life sytle.
Akhirnya kami segenap kru majalah Listrik Indonesia mengucapkan Selamat Natal bagi anda yang merayakannya dan Selamat Tahun Baru 2012. Harapan kami, semoga tahun 2012 ini menjadi dinamit kesuksesan Anda . Selamat membaca dan berkarya.
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber gas. Bahkan dalam berbagai penelitian disebutkan Indonesia merupakan salah satu penghasil gas terbesar di dunia. Dari tahun ke tahun kebutuhan gas di Indonesia juga terus mengalami peningkatan. Sayang
Berikan komentar anda