Peran Rekadaya Elektrika Membangun PLTU Luar Jawa

Peran Rekadaya Elektrika  Membangun PLTU Luar Jawa

Perjalanan panjang untuk meraih sukses dalam memasuki bisnis membangun power plant skala kecil bukan diperoleh secara cuma-cuma. Sebelum dipercaya untuk mengerjkan proyek pembangkit Rekadaya Elektrika adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultan untuk supervisi pembangunan  PLTU milik PLN. Setelah 4 tahun mengasah kemampuan dan mempersiapkan man power yang handal untuk pertama kali kontrak Engineering Procurement Contract (EPC) empat unit PLTU ditangani secara total oleh perusahaan nasional tersebut. 

“'Kami berhasil mengalahkan perusahaan China lainnya dalam lelang internasional EPC tersebut,” ujar, Direktur Utama  PT Rekadaya Elektrika, Didi Hasan Putra.

Lebih jauh dijelaskan, ke-empat proyek itu masing-masing adalah PLTU Tanjung Balai Karimun (2x7 MW), PLTU Ende (2x7 MW) dan PLTU Kendari (2x10 MW). Peran PT Rekadaya  Elektrika dimulai dari konsep, perancangan (design), pabrikasi, konstruksi hingga comissioning ke-empat proyek tersebut. Inilah keunggulan dari anak perusahaan PLN ini yang selalu menerapkan in house engineering dalam membangun setiap power plant. Hal ini tentu sangat menguntungkan, karena seluruh proses dari hulu sampai hilir akan dikusai, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap komponen dan  insinyur asing.

Untuk memenuhi TKDN (Total Kandungan Dalam Negeri), sebagian besar komponen ke-empat proyek tersebut menggunakan komponen lokal. 

“Untuk PLTU Karimun, PLTU Ende dan PLTU Maluku Utara kandungan lokal mencapai 68 persen, sedangkan untuk PLTU Kendari kandungan lokalnya sebesar 50 persen. Boiler, Generator, Electrical, Balance of Plant semuanya dari pabrikan lokal”, ungkap Didi.

Praktis untuk PLTU skala 2 x 7 MW hanya turbin yang diimpor dari pabrikan luar negeri yaitu dari Shandong Machinery I & E Group Corp., China. 

Untuk proyek selanjutnya PT Rekadaya Elektrika bermaksud bekerjasama dengan PT Nusantara Turbin Propeler, Bandung. Sedang batubara yang digunakan sebagai bahan bakar adalah jenis low rank coal.

Direktur Utama PT Rekadaya Elektrika Didi Hasan Putra  menambahkan multiplier efect bagi perekonomian nasional dari proyek ini cukup besar. “Selain mengembangkan industri di dalam negeri, dengan menggunakan kandungan lokal yang cukup besar sehingga bisa menambah lapangan kerja yang cukup luas, yang tak kalah penting lagi adalah mengemban semangat merah - putih”, papar Didi. 

Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa perusahaan nasional mampu mengerjakan secara total pembangkit listrik. PT Rekadaya Elektrika merupakan perusahaan patungan yang pemegang sahamnya dimiliki oleh PT PJB, PT Indonesia Power, PLN Batam, YPK PLN serta PT Rekayasa Industri. Perusahaan yang berdiri September 2003 ini selama ini telah menangani berbagai proyek rekayasa dan EPC di bidang ketenagalistrikan yang 99 persen dikerjakan oleh SDM dari Indonesia.

Direktur Pengadaan Strategis PLN , Bagiyo Riawan saat diminta tenggapannya disela kesibukannya sebagai pembicara dalam seminar pengembangan hydro power mengungkapkan penghargaan serta pujian atas langkah dan kinerja Rekadaya Elektrika, karena sebagai pemain baru di bidang EPC sudah mampu menunjukan hasil yang sangat baik.

“Apresiasi kami berikan untuk direksi karena sudah mampu mengelola SDM dengan baik. PLN akan mempertahankan keberadaannya sebagai bagian dari pengembangan usaha, khususnya untuk pembangunan PLTU luar jawa,” kata Bagiyo.

Kecil Tapi Berarti Besar

Ada cerita menarik beberapa bulan yang lalu, yaitu pada 8 Mei 2012  saat dimana akan dilakukan sinkronisasi di PLTU Tanjung Bakai Karimun oleh Direktur Utama PT Rekadaya Elektrika.

Bagaimana tidak?.  Sudah bersiap  di control room ketegangan dan kecemasan malah terjadi. Disaat persiapan telah matang dilakukan , dan putaran turbin mencapai rated speed-nya,yaitu 3000 rpm, ternyata control panel AVR tidak merespon dengan baik.

Menyadari ada yang kurang beres, semua personil memeriksa kembali peralatan yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing,begitu juga yang berada di boiler, turbin dan bagian lainnya terus  melakukan pemantauan.

“Alhamdulillah, kurang dari satu jam permasalahan tersebut dapat diatasi. Sinkronisasi PLTU Tanjung Balai Karimun telah terlaksana dengan sukses. Sungguh melegakan. Ketegangan, kecemasan pun langsung sirna,” papar Didi Hasan Putra mengenang detik-detik mendebarkan tersebut.

PLTU Tanjung Balai Karimun  memang kecil, hanya 2 X 7 MW, tentu tak sebanding dengan PLTU Paiton yang memiliki kapasitas 1 x 660 MW.

Meski demikian, menurut Didi, keberadaannya mempunyai arti yang sangat besar bagi masyarakat setempat. Dengan beban puncak sebesar 14 MW dan beban off peak yang10 MW. PLTU Tanjung Balai Karimun mampu meng-cover 100 persen total beban puncak.

Tanjung Balai Karimun merupakan salah satu Proyek Percepatan Diversifikasi Energi (PPDE) 10.000 MW tahap I.

“Kami sangat bangga melihat semangat seluruh man power Rekadaya Elektrika. Apalagi dalam proses sinkronisasi ini semua dikerjakan oleh tenaga kerja dalam negeri. Hanya satu orang asing yang berasal dari China yang merupakan vendor turbin,” tambahnya. 

Semangat Merah - Putih

Hal ini tentu saja tidak akan terjadi bila semangat nasionalisme tidak mengemuka. Hal langka yang ditemui kini terjadi. Dulu, bila ada proyek yang dalam proses sinkron mayoritas yang menanganinya adalah tenaga asing dari Amerika, Eropa atau Jepang. Di PLTU Tanjung Balai Karimun hanya ada orang asing yaitu dari China, dan itupun hanya figuran. Keberadaannya dibutuhkan semata-mata hanya karena Rekadaya Elektrika membeli turbin. Sebagai pemasok mereka wajib mengirimkan engineer-nya saat pemasangan dan uji coba. Selain Boiler, Balance of Plant, termasuk ahli turbinnya sendiri adalah orang Indonesia. Ini  tentu  sangat membanggakan.

Rasa bangga seperti itu, ungkap Didi, pernah dia rasakan saat sinkronisasi PLTU Kendari, yang juga dibangun oleh Rekadaya bersama konsorsium Shandong Machinery dari Cina. Hanya waktu itu peran Rekadaya Elektrika belum begitu vital, karena PLTU Kendari didisain oleh pihak dari China termasuk pasokan turbin generator dan boiler. Hanya peralatan lain yang berasal dari Indonesia. Secara persentase, komponen lokal untuk PLTU Kendari berkisar 40 persen. Peran teknisi dari Cina waktu itu masih 4 orang saat pengujian. Kedua unit PLTU Kendari telah menyelesaikan Reliability Run (RR) masing-masing selama 30 hari. Itupun merupakan rekor program PPDE, karena selama ini belum ada unit di luar Jawa yang mampu mencapai Reliability Run (RR) selama 30 hari. Periode tersebut adalah periode yang panjang dan berat, karena dalam rentang waktu tersebut kedua  unit tidak boleh padam, kecuali disebabkan oleh gangguan dari luar.

 Sampai pertengahan Mei 2012 PLTU Kendari telah menyalurkan lebih dari 22 GWh ke sistem PLN. Jumlah tersebut yang dihasilkan dengan menggunakan batubara berkalori rendah, berarti penghematan sekitar Rp 40 Miliar bagi PLN bila dibandingkan dengan menggunakan solar.

Dalam perjalanannya, PT Rekadaya Elektrika pernah mengalami kesulitan keuangan (bleeding) dalam menggarap proyek PPDE karena terimbas kenaikan barang akibat Olimpiade Beijing 2008. Hal yang sama juga dialami oleh semua EPC kontraktor nasional lainnya. Untunglah, pada tahun 2010 PT Pembangkitan Jawa Bali memberikan suntikan dana berupa pinjaman dan tambahan modal sehingga RE mampu melanjutkan proyeknya kendati belum bisa full speed.

Ujian demi ujian dilalui oleh direksi, bahkan di era kepemimpinan DIS sebagai Dirut PLN, RE hampir saja dibubarkan. 

Saat DIS bersama Direktur Operasi Indonesia Bagian Barat, Harry Jaya Pahlawan dan beberapa pejabat PLN melakukan kunjungan ke PLTU Tanjung Balai Karimun, mereka pesimis proyek itu dapat diselesaikan. Bahkan DIS sempat mengatakan, ”Saya akan bubarkan saja Rekadaya Elektrika. Beri saya penjelasan apa yang akan  kamu lakukan?”. Dengan gugup Dirut menjelaskan masalah dan usaha yang akan dilakukan oleh RE. Setelah beberapa saat, DIS akhirnya memahami dan malah mendorong Rekadaya Elektrika untuk tetap maju.

“Atas nama seluruh personil Rekadaya Elektrika kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Pak Dahlan Iskan yang masih memberikan kepercayaan,” Kata Didi Hasan 

Dengan ketegaran dan kemampuan serta dukungan seluruh SDM Rekadaya Elektrika mampu menjawab tantangan itu dengan karya nyata. Hal ini terjadi karena sebagai nahkoda utama, Didi Hasan Putra mampu menyatukan potensi yang ada untuk  membawa anak perusahaan PLN ini tetap berkibar serta berkiprah dalam membangun negeri.

Perjalanan RE terntu masih diuji, setelah milestone Tanjung Balai Karimun, masih tersisa 4 unit PLTU lagi yang harus dituntaskan, yaitu 2 unit PLTU Ende yang terletak di pulau Flores dan 2 unit lagi di PLTU Tidore, Maluku Utara.  Tantangan masih berlanjut  dengan segala permasalahan yang akan silih berganti, meskipun jauh di pelosok dan minim fasilitas, tetapi Rekadaya Elektrika terus bertekad untuk mewujudkan PLTU Merah Putih di bumi Indonesia tercinta. 

Author :

Tags : Korporasi

4 Komentar

Berikan komentar anda

Top