Nusantara Regas Atasi Kesulitan Pasokan Gas PLN

Author : Administrator
Nusantara Regas  Atasi Kesulitan Pasokan Gas PLNPresiden Direktur Nusantara Regas, Hendra Jaya mengungkapkan akan menggunakan tanker LNG yang telah dikonversi sebagai terminal gas terapung. Pipa sepanjang 15 km dengan ukuran 24 inchi  akan menghubungkan terminal gas itu dengan pembangkit listrik Mua­ra Karang untuk menjamin sta­bi­litas pasokan gas di sana. Selama ini, pasokan gas untuk Muara Karang me­ngandalkan pengiriman darilapangan gas milik Pertamina Hulu Energi-ONWJ(PHE-ONWJ).Menurunnya pasokan gas untuk PLTGU Muara Karang membuat PLN se­ringkali terpaksa menggunakan bahan bakar minyak yang harganya le­bih mahal. Langkah itu dilakukan untuk menjamin ketersediaan listrik dari Muara Karang, yang menjadi tumpuan banyak fasilitas publik di Ibukota.
Terminal gas terapung milik Nu­san­tara Regas ini diharapkan akan menjadi model pasokan gas untuk pembangkit listrik di Jawa.

“Model terminal terapung ini lebih mu­rah ketimbang membangun fsilitas Land Base LNG Receiving Terminal di sekitar Jakarta dan Jawa Barat,” kata Hendra.
Kapasitas produksi satu terminal mi­salnya, mencapai 400 juta kaki kubik gas per hari. Berikutnya, Pertamina tengah mempersiapkan terminal serupa di Semarang, Jawa Tengah.
Di Asia, model terminal gas terapung ini baru diterapkan di Dubai, Qatar. Terminal Offshore di Jakarta adalah yang kedua di Asia, dan dimiliki sepenuhnya oleh perusahaan Nasional Indonesia,
Saat ini, tanker yang dipersiapkan men­jadi terminal gas terapung ini tengah dikon­versi menjadi unit regasifikasi di Singapura. Rencananya mulai ditarik dengan tug boat ke Tanjung Priok, pada Januari 2012.
Selain untuk kebutuhan pem­bang­­kit listrik, pasokan LNG dari ter­minal terapung Nusantara Regas juga diproyeksikan untuk mengatasi kebutuhan industri.
“Kami perkirakan ada permintaan gas untuk seluruh Jawa Barat dan sekitarnya sebesar 1.800 juta kaki kubik gas pada 2012 de­pan,” tambah Hendra.
       
Digarap Golar LNG
Golar LNG Energy Limited dipercaya PT Nusantara Regas untuk membangun fasilitas FSRU di Teluk Jakarta. CEO Golar Energy, Oscar Spieler  menyatakan hal tersebut setelah perusahaannya memenangkan tender konstruksi pem­bangunan FSRU yang diadakan Nu­santara Regas.
Konversi salah satu kapal pengangkut LNG dijadikan solusi untuk dimodifikasi men­jadi FSRU di proyek tersebut. Kontrak­­­nya diperkirakan sekitar US$ 500 juta.
Perusahaan asal Bermuda ini  sangat  ber­pengalaman dalam melakukan kon­versi kapal pengangkut LNG menjadi FSRU. Dalam tiga tahun terakhir Golar grup sudah mengerjakan tiga FSRU sejenis. Desain FSRU untuk Nusantara Regas akan serupa dengan unit FSRU terakhir yang sudah kami bangun sebelumnya untuk pemesan di Dubai.

Menurut Oscar, FSRU milik Nu­san­tara Regas nantinya akan menjadi LNG regasification terminal pertama di Indonesia dan Asia. Ia juga menjamin, teknologi yang diberikan Golar untuk FSRU yang dibuatnya sangat efisien dan efektif dalam proses regasifikasinya.
"Proyek ini mengukuh­kan posisi Golar sebagai pemimpin dalam tek­no­logi konversi kapal pengangkut LNG men­jadi FSRU," pungkasnya.
Sementara PJS Sekretaris Perusahaan Nusantara Regas Maralda Kairupan berharap Golar bisa menye­lesaikan pesanan FSRU tepat waktu. Sehingga pa­ling lambat pada kuartal IV 2011 fasilitas tersebut sudah bisa digunakan.
"Konstruksinya akan dilakukan di workshop Golar, bukan di Indonesia. Yang jelas sebelum commissioning periode di kuartal IV 2011 mereka harus sudah mengirimkan kapalnya," pungkas Maralda.

FSRU Jawa Barat

Pemerintah menargetkan Floating Storage Regassification Unit (FSRU) dapat mulai dioperasikan pada 1 Maret 2012. Sebelum beroperasi, pemerintah akan melakukan commissioning pada Januari 2012.
”Kita masih mengharapkan 1 Maret 2012 sudah mulai beroperasi. Mulai awal Januari, sudah mulai commissioning, Jika  tidak ada kendala pada Februari 2012 FRSU sudah dapat beroperasi. Namun demikian, kegiatan belum dapat dilakukan100 persen” ungkap Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H. Legowo.
FSRU Jawa Barat dibangun oleh Nusan­tara Regas, berkapasitas  3 juta ton LNG pertahun atau setara dengan penyaluran 400 juta kaki kubik gas bumi per hari (MMSCFD) yang akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik PLN Muara Karang dan Tanjung Priok, Jakarta.

Selain FSRU Jawa Barat, pemerintah juga membangun FSRU di Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Pembangunan 3 FSRU ini merupakan amanat Inpres No 01 tahun 2010 untuk mengatasi defisit gas di atas 200 MMSCFD. Dengan adanya infrastruktur LNG terminal ini, diharapkan pasokan gas ke tempat yang jauh dari sumber gas bumi dapat dilakukan dalam bentuk pengiriman LNG. ■


0 voters

0 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas