Konsorsium Adaro Menang Tender PLTU Jawa Tengah

Author : Administrator Dibuat : Jun 22, 2011

Konsorsium Adaro Menang Tender  PLTU Jawa Tengah
Usai sudah jalan berliku yang diretas PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) guna memenuhi kebutuhan listrik nasional mulai menampakkan hasil positif. Hal ini diperoleh menyusul ditetapkannya konsorsium Adaro sebagai pemenang tender. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa Tengah yang berkapasitas 2x1.000 Megawatt (Mw).

Keputusan penetapan konsorsium J Power dan Itochu Corporation (Jepang) bersama PT Adaro Energy Tbk sebagai pemenang tender, boleh jadi merupakan tonggak sejarah kebangkitan PLN dan juga pemerintah Indonesia. Pasalnya, proyek PLTU Jateng ini merupakan pembangkit listrik terbesar yang akan ada di Tanah Air. Jika PLTU Jateng ini terealisasi, maka PLTU yang ada di Tanjung Pati dan Paiton (660 Mw) akan terlampaui kapasitasnya.

Dalam perjalanannya sebagai pemenang tender, Konsorsium Adaro harus melalui sejumlah tahapan yang ditetapkan oleh panitia tender. Proses tender yang dimulai sejak Februari 2010 ini awalnya diikuti oleh sekitar belasan perusahaan internasional dan menyisakan tujuh perusahaan yang memenuhi syarat (3 perusahaan Jepang, 3 perusahaan China, dan 1 perusahaan Korea Selatan). Seiring fase kualifikasi, pada penutupan tender (29 April 2011), hanya empat perusahaan saja yang memasukkan penawaran. Keempat calon investor (perusahaan) tersebut adalah konsorsium J Power-Itochu-Adaro, Shenhua, Marubeni Corporation, dan konsorsium Guandong-Yudean. Keempat calon investor ini dikenal sebagai pelaku bisnis energi yang mumpuni di dunia.

Pasca ditetapkannya konsorsium J Power-Itochu-Adaro sebagai pe­menang tender PLTU Jateng, Direktur Utama PLN Dahlan Iskan dalam siaran pers mengaku lega atas keberhasilan jajarannya dalam melaksanakan tender PLTU Jateng yang bersejarah bagi PLN dan pemerintah Indonesia. Ada beberapa nilai sejarah yang dicatat dari proyek PLTU Jateng ini. Diantaranya adalah karena Indonesia belum pernah memiliki pembangkit listrik yang ukuran satu unitnya mencapai 1.000 Mw.

Proyek ini juga dinilai bersejarah karena merupakan proyek pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi ultra super critical. Dengan teknologi ini, efisiensi energi akan lebih tinggi dan ramah lingkungan jika dibandingkan dengan pembangkit yang berbahan bakar batubara (untuk menyalakan pembangkit berkapasitas besar ini diperkirakan membutuhkan batu bara hingga 7 juta ton per tahun). Satu hal lagi yang patut dicatat sebagai sejarah PLN adalah karena nilai proyek PLTU Jateng ini yang mencapaiUS$ 3,5 miliar atau setara dengan Rp 30 triliun. Artinya nilai proyek tersebut adalah yang terbesar dalam sejarah PLN.

Hasil tender ini rupanya juga cukup mengejutkan pihak PLN. Pasalnya harga yang diperoleh menjadi lebih murah. Yaitu 5,79 cent US$/kWh dari perkiraan PLN yang mencapai 6,5 cent US$/kWh. Sementara harga perkiraan PLN sendiri ditetapkan senilai 7,1 US$/kWh. Tentu saja hasil ini seolah menasbihkan teori yang mengatakan semakin besar unit PLTU yang dibangun, maka akan semakin murah biayanya. Apakah hal tersebut mengindikasikan bahwa tender bebas dari intervensi pihak luar? Menurut Dahlan, memang ada upaya dari pihak luar yang coba mempengaruhi PLN. Hal tersebut dinilainya wajar mengingat besarnya nilai proyek PLTU Jateng ini. Namun dia bersyukur bahwa tim tender PLTU Jateng mampu menjaga integritasnya. “Inilah proyek yang bersih dari permainan,” kata Direktur Utama PLN Dahlan Iskan.

PLTU Jateng yang merupakan pembangkit listrik terbesar dengan kapasitas 2x1.000 Mw ini dikembangkan dengan skema pengembang listrik swasta dan dipantau langsung oleh Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Proyek ini juga merupakan proyek showcase, kerjasama pemerintah swasta (KPS) skala besar pertama  berdasarkan Perpres Nomor 13 Tahun 2010 yang didukung penjaminan dari Kementerian Keuangan melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) atau PT PII.

Proyek PLTU Jateng ini sendiri memiliki jangka waktu kontrak pem­belian listrik dengan PLN atau Power Purchase Agreement (PAA) selama 25 tahun dengan skema built operation transfer (BOT). Dahlan mengakui bahwa pengadaan proyek ini dilakukan melalui lelang internasional dan sedikit berbeda dengan pengadaan pembangkit listrik swasta lainnya karena ada proses konsultasi pasar yang lebih intensif serta didukung oleh penjaminan melalui PT PII.

Sejauh ini ada empat alternatif lokasi proyek PLTU Jateng  yang seluruhnya berada di wilayah pantai utara Jateng. Dengan skema Independent Power Producer, maka pemenang tender dapat memilih lokasi yang paling memungkinkan untuk membangun PLTU.

Setidaknya dengan apa yang  konsorsium J Power-Itochu-Adaro lakukan, dapat memberikan efek positif kepada proyek lainnya yang dibangun dengan sistem kerjasama pemerintah swasta (KPS). Kendati sejauh ini baru PLTU Jateng yang berhasil dilelangkan, bukan tidak mungkin proyek lainnya akan menyusul sukses lelang proyek PLTU Jateng. Seperti proyek jalur kereta api antara Bandara Soekarno-Hatta dan Manggarai, proyek pengadaan air minum di Umbulan (Jawa Timur), proyek pelabuhan di Ampo (Bali), dan proyek jalan tol Medan-Kuala Namu.■  



0 Komentar

Berikan komentar anda

Top