Memetik Pelajaran Soal Tarif Listrik Dari Negara Tetangga

Memetik Pelajaran  Soal Tarif Listrik  Dari Negara Tetangga

Kenaikan TDL buat industri yang dilakukan PLN, kembali memicu polemik. Bagaimana perbandingan harga listrik antara Indonesia dan negara tetangga?

Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) bagi industri melalui capping atau pelepasan batas atas harga listrik sebesar 18% oleh PT PLN (Persero), menuai protes dari kalangan pebisnis. Alasan mereka, pemerintah dan PLN telah melanggar kesepakatan sebelumnya yakni komitmen untuk mendorong pertumbuhan industrI nasional.

Namun sebenarnya, telah ada kesepakatan sebelumnya bahwa maksimal pemerintah hanya akan menaikan TDL sebesar 18%. Artinya, kalau dilihat kenaikan tersebut tidaklah melanggar kesepakatan. Menariknya, protes sebagian pengusaha tersebut justru tidak didukung oleh beberapa serikat buruh. Mereka menuding, protes tersebut hanya semacam akal-akalan pengusaha untuk terus mendapat subsidi listrik dari pemerintah.

Di luar polemik tersebut, muncul pernyataan dari PLN bahwa penetapan harga listrik untuk industri di Tanah Air adalah yang paling murah di antara negera-negara tetangga. Umumnya negeri jiran, harga listriknya baik untuk industri maupun rumah tangga berada di atas harga listrik Indonesia. Kalau pernyataan tersebut benar, berarti pemerintah memang memiliki dasar yang kuat untuk menetapkan kenaikan harga listrik bagi industri.

Kalau dilihat dari data PLN tahun 2009, terbukti bahwa harga jual listrik di Indonesia memang yang paling rendah kalau dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, Vietnam, Hong Kong, Filipina, dan Singapura. Demikian juga dengan harga listrik untuk rumah tangga, kecuali dengan Vietnam, harga listrik untuk rumah tangga di Indonesia dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, Filipina, dan Singapura adalah yang termurah.

Berdasarkan data dari PLN, terlihat bahwa harga listrik Indonesia untuk sektor industri pada 2009 hanya sebesar Rp518 per kWh. Sementara Thailand, Malaysia, Vietnam, Hong Kong, Filipina, dan Singapura masing-masing per kWh sebesar Rp782, Rp829, Rp848, Rp1.307, Rp1.449, Rp1.453. Sedangkan untuk harga TDL rumah tanga, pada 2009 Indonesia sebesar Rp621 per kWh. Sedangkan Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Singapura masing-masing per kWh sebesar Rp812, Rp699, Rp573, Rp1.551, dan Rp1.143.

Pada 2010, harga listrik Indonesia disebut PLN juga masih lebih murah dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Harga listrik Indonesia saat ini sebesar 8,24 sen dollar AS per kWh atau sekitar Rp735 per kWh. Sedangkan harga listrik di Malaysia, Filipina, dan Vietnam masing-masing per kWh sebesar 10,73 sen dollar AS per kWh, 15,39 sen dollar AS, dan 9,69 sen dolar AS.

Harga listrik di Malaysia yang lebih murah, membuat PLN sempat melakukan pembelian listrik dari negara tersebut untuk pasokan listrik di wilayah Indonesia yang berbatasan dengan Malaysia. Tahun lalu, PLN secara resmi telah membeli listrik dari Serawak Energy Berhard (SEB) yang kini berubah nama menjadi SESCO Syarikat Berhard, Malaysia.
Tujuannya untuk kebutuhan listrik masyarakat di perbatasan Kalimantan Barat (Kalbar)-Serawak. Harga listrik dari SEB dinilai sedikit lebih murah, dibandingkan kalau PLN membangun pembangkit sendiri di Kalbar.

SESCO Syarikat Berhard merupakan perusahaan yang bertanggung jawab melakukan transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk Negara Bagian Serawak. Perusahaan tersebut melayani listrik bagi 382 ribu pelanggan. SESCO sahamnya sebanyak 51,6% dimiliki oleh pemerintah Serawak, dan sisanya sebesar 45% dimiliki Serawak Enterprise Corporation Berhard.

PLN dan SESCO kembali berencana melakukan kerjasama jual beli listrik yang diperkirakan mencapai 100-200 megawatt. Rencananya, proyek tersebut dilangsungkan di Kalimantan Barat, yang dekat dengan perbatasan Serawak. Kerja sama kedua negara itu ditargetkan dapat tuntas di 2013.
Dalam kerjasama tersebut, PLN nantinya akan memasok listrik ke Malaysia saat sistem kelistrikan Indonesia mencapai beban dasar. Sedangkan ketika Indonesia mengalami beban puncak, giliran

Serawak yang menyalurkannya. Indonesia bakal mendapat listrik lewat pembangkit listrik tenaga air milik Malaysia, yang memiliki daya sebesar 2.400 megawatt.
Di Malaysia, selain Serawak Energy Berhard ada salah satu perusahaan terbesar listrik di Malaysia yakni Tenaga Nasional Berhad (TNB). TNB merupakan salah satu perusahaan listrik terbesar di Malaysia dengan asset 60 juta ringgit Malaysia. TNB melayani sekitar 6 juta pelanggan baik industri maupun rumah tangga di Semenanjung Malaysia dan Sabah.

TNB juga memiliki saham di perusahaan listrik Malaysia lain yaitu Sabah Electricity Sdn Bhd (SESB). SSEB merupakan perusahaan listrik yang memiliki 361,400 pelanggan di Sabah dan dimiliki oleh Kerajaan Negeri Sabah dan Tenaga Nasional Berhad.

Berdasarkan catatan seorang pelanggan listrik di Malaysia dalam forum kompasiana.com, ternyata pe­ne­tapan tarif listrik di negara tersebut berbeda-beda pada beberapa jenis pelanggan. Semakin tinggi pemakaian listrik pelanggan, maka akan semakin mahal pula tarif listriknya.
Pada 2010 lalu, pengguna listrik sampai dengan 500 kWh dikenakan tarif sebesar 0,289 ringgit Malaysia per kWh, sedangkan untuk penggunaan, 500 kWh sampai dengan 600kWh tarifnya dikenakan sebesar 0,378 per kWh, dan untuk pemakaian 700 kWh sampai 800 kWh tarifnya sebesar 0,397 ringgit Malaysia per kWh.

Seperti juga di Indonesia, tidak selamanya pengelolaan listrik di luar negeri selalu mengalami untung. Contohnya di Malaysia. Di awal 2009 lalu, Perusahaan Listrik Tenaga Nasional Berhard mengumumkan mengalami kerugian sebesar US $262 juta atau setara dengan 944,1 juta ringgit Malaysia selama tiga bulan terakhir pada 2008. Padahal sebelumnya, perusahaan milik pemerintah Malaysia tersebut sempat mengalami keuntungan sebesar 1.51 miliar juta ringgit Malaysia.

Di luar persoalan tarif, ada persoalan lain yang perlu mendapat perhatian Indonesia yaitu soal tingkat rasio electricity Indonesia yang saat ini kurang dari 70%. Sementara, Malaysia dan Thailand memilki rasio elektrifikasi yang relatif lebih tinggi. Pada 2008 saja, tingkat rasio elektrifikasi Thailand mencapai 80% dan Malaysia sudah sekitar 98%. Inilah pekerjaan rumah yang harus dikerjakan Indonesia, yaitu bagaimana upaya meningkatkan rasio elektrifikasi nasonal.

Author :

0 Komentar

Berikan komentar anda

Top