Kisah 1001 Malam Negeri Kaya Energi

Kisah 1001 Malam Negeri Kaya Energi

Pascakeruntuhan Rezim Saddam Husien akibat serbuan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, Irak terus melakukan upaya pembenahan. Infrastruktur, khususnya energi yang kaya dimiliki negara tersebut, merupakan target utama untuk dibenahi. Apalagi Irak termasuk salah satu negara yang memiliki cadangan migas terbesar di dunia.

Dengan jumlah cadangan minyak mentah sebesar 141,3 miliar barel, Irak kini tercatat sebagai negara yang memiliki cadangan energi terbesar ketiga di dunia setelah Arab Saudi dan Venezuela. Produksi minyak Irak hingga 2010 tercatat sekitar 2,5 miliar barel per hari. Seperti juga negara-negara Timur Tengah lain, sumber utama penerimaan negara tersebut sangat bergantung pada ekspor minyak.Kontribusi penerimaan dari minyak terhadap total anggaran penerimaan negara di Irak mencapai 95%.

Secara resmi, pemerintah Irak pada Oktober 2010 lalu memang meng­umumkan bahwa cadangan mi­nyak terbukti mereka mencapai 141,3 miliar barel. Angka tersebut berarti mengalahkan cadangan minyak dan gas Iran, sehingga Irak tercatat sebagai negara penghasil migas terbesar ketiga di dunia. “Sebesar 71% dari cadangan minyak terbukti itu terpusat di bagian Selatan Irak, 20% di sebelah Utara, dan 9% di bagian Tengah Irak,” tutur Menteri Perminyakan Irak, Husseiun al-Shahristani seperti yang dilansir Kantor Berita AFP.

Walaupun cadangan minyak terbukti Irak dinyatakan sebesar 141,3 miliar barel, tetapi, ada sebuah perkiraan yang menyebutkan bahwa cadangan minyak Irak masih lebih besar 25-30% dibandingkan dengan seluruh cadangan minyak Arab Saudi yang cadangannya diperkirakan sebesar 338 miliar barel.

Dua diantaranya yang diperkirakan memiliki sumber minyak terbesar adalah ladang minyak di Kaluna yang cadangannya diperkirakan sebesar 40 miliar barel dan Majnoon yang diperkirakan sebesar 30 miliar barel.
Pakar Ilmu Teknik Reservoir Per­minyakan dari Institut Teknologi Ban­dung (ITB), Doddy Abdassah, juga mengakui besarnya potensi minyak di Irak. Menurut Doddy, reservoir rekah alam yang menyimpan kandungan minyak dengan cadangan terbesar di dunia ada di Kirkuk, Irak.

Negara Irak, sekali lagi, memang kaya dengan cadangan minyak. Banyak kilang minyak besar berdiri di negara tersebut. Sayang, dalam konflik dengan Amerika Serikat dan pascakonflik tersebut, banyak kilang minyak di Irak yang terbakar. Salah satunya adalah kilang minyak North Refinery yang merupakan kilang minyak terbesar di Irak. Padahal, kilang minyak di Baiji, Irak tersebut, mampu memproduksi sekitar 11 juta liter premium dan 4,5 juta liter kerosin per hari.

Akibat lumpuhnya kilang-kilang minyak yang seharusnya berproduksi, negara yang dulu sering berkonflik dengan tetangganya tersebut terpaksa mengimpor bahan bakar minyak (BBM) untuk konsumsi domestik mereka.
Tak heran, kalau kemudian negara yang pernah menjadi salah satu eksportir minyak terbesar di dunia itu terguncang akibat kurangnya pasokan energi baik, termasuk untuk bahan baku pengelolaan listrik.

Padahal, bagi warga Irak, seharusnya cadangan energi yang melimpah tersebut, dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan listrik warga Irak. Namun, perang berkepanjangan mengakibatkan pembangunan infra­struk­tur kelistrikan di Irak menjadi ter­ganggu. Pada akhirnya, Warga Irak acapkali mengalami gangguan pemadaman listrik secara bergilir. Di awal hingga pertengahan tahun lalu, pemerintah Irak bahkan hanya mampu memberikan penerangan selama 6 jam per hari kepada warganya. Parahnya lagi, tarif listrik terpaksa harus naik hingga 50 dolar AS karena mahalnya biaya bahan baku listrik. Khususnya, ketika pemakaian listrik dilakukan dengan memanfaatkan generator milik swasta.

Alhasil, akibat desakan dan demons­trasi besar yang menimbulkan korban jiwa, Menteri Kelistrikan Irak saat itu, Karim Waheed, meletakan jabatannya dan mengundurkan diri dari posisi Men­teri Kelistrikan Irak dalam Kabinet Irak.

Pembenahan dan pembangunan kembali infrastruktur energi dan ke­listrikan Irak memang membutuhkan waktu lama. Tetapi, Irak bertekad membangun kembali infrastruktur ener­gi dan kelistrikan mereka. Ne­gara itu mencoba menggandeng perusahaan-perusahaan asing dengan kontrak miliaran dolar AS dalam rangka me­­ning­katkan kapasitas produksi migasnya. Ditargetkan, dalam tujuh tahun ke depan, kapasitas produksi migas Irak bisa mencapai 12 juta barel per hari (bph) dalam rangka menyaingi Arab Saudi yang kini menempati urutan pertama negara produsen minyak ter­besar di dunia.

Tender Blok Migas Irak
Selain minyak bumi, Irak juga me­mi­liki cadangan gas yang melimpah. Menurut British Petroleum Plc, Irak memiliki cadangan gas terbesar kelima di Timur Tengah. Sementara untuk le­vel dunia, cadangan gas terbukti Irak menempati posisi kesebelas, yakni sebesar 3,17 triliun kaki kubik hingga awal 2010 lalu. Dan pada awal 2011, diperkirakan cadangan terbukti gas di Irak pada 12 blok eksplorasi migas yang akan ditenderkan, diperkirakan mencapai 29 triliun kaki kubik atau sekitar 0,9 triliun meter kubik gas.

Ketika pemerintah Irak menawarkan tender internasional untuk 12 blok gas tersebut, banyak negara-negara yang ikut serta. Termasuk dari Indonesia yang diwakili PT. Pertamina (Persero). Rupanya, walaupun Irak sempat luluh lantak akibat perang, banyak negara diberbagai belahan dunia yang tetap melihat Irak sebagai negara penghasil minyak dan gas yang sangat potensial. Itu sebabnya banyak negara ikut serta dalam tender tersebut.
Lelang internasional blok gas, sudah dilakukan Irak sejak beberapa tahun lalu. Kemudian, pada November 2010, pemerintah Irak mengeluarkan tiga izin konsesi gas. Salah satunya adalah proyek yang dimenangkan oleh Royal Dutch Shell Plc RSDA dan Mitsubishi Corp. Proyek yang dimenangkan oleh konsorsium dua perusahaan tersebut itu, lokasinya terletak di sebelah Selatan Irak. Di lokasi tersebut, ada sekitar 700 juta kaki kubit gas  yang jumlahnya cu­kup untuk memproduksi listrik sebesar 4.500 megawatts.

Menurut Hans Nijkamp, Vice President and Country Chairman dari Royal Dutch, seperti yang dikutip Bloomberg pada pertengahan Juni lalu, proyek senilai 12,5 juta dolar AS itu siap dijalankan setelah sebelumnya sempat mengalami penundaan.

Dua ladang gas terbesar lain, di­menangkan oleh konsorsium Kazakhstan dan Korea Selatan, dan ladang gas lebih kecil dimenangkan oleh konsorsium Turki dan Kuwait. Konsorsium Korea Gas Corporation asal Korsel dan KazMunaiGaz dari Kazakhstan memenangkan hak pe­ngelolaan ladang gas Akkaz yang terletak di Provinsi Anbar dengan cadangan gas sekitar 158 miliar meter kubik. Sementara, pengelolaan ladang gas Siba dengan cadangan gas sekitar 34 milyar meter kubikdimenangkan oleh konsorsium Kuwait Energy dan TPAO Turki.

Sebelumnya, pada 2009, British Petroleum dan perusahaan China CNPC memperoleh dua kontrak pertama blok gas Irak. Lokasinya terletak di ladang minyak Rumaila, Irak Selatan. Ladang tersebut merupakan salah satu ladang minyak terbesar di dunia. Konsorsium tersebut bahkan sempat mengajukan tawaran kerjasama untuk kurun waktu 20 tahun.

Persoalan energi memang menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Irak saat ini. Terutama dalam rangka memenuhi pasokan listrik di negara tersebut yang mengalami krisis akibat konflik perang. Itu sebabnya, dalam kurun waktu 6-7 tahun ke depan, pemerintah Irak mengaku belum akan melakukan ekspor gas. Sebaliknya, pemerintah Irak malah menandatangani kesepakatan impor gas dari Iran. Tujuannya, untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Hingga lima tahun ke depan, Irak berencana membeli sekitar 25 juta meter kubik gas alam dari Iran dalam rangka memasok dua unit pembangkit listrik di sebelah Timur Laut Baghdad.

Tak hanya itu, Kementerian Ke­listrik­an Irak juga menandatangani ke­sepakatan baru senilai USD 1 mi­liar dengan perusahaan asal China, Shanghai Electric untuk pembangunan dua pembangkit listrik di kota Zubaidiya, wilayah selatan Irak. Seperti yang dilansir Kantor Berita Reuters, melalui kontrak tersebut, akan ada dua unit generator tambahan berkapasitas masing-masing 610 MW, sehingga dapat memperbesar kapasitas pasokan daya listrik hingga mencapai total 2.540 megawatt.

Kendati Irak cukup kaya dengan gas, namun seperti yang diungkapkan oleh pemerintah Irak bahwa mereka masih belum akan melakukan ekspor gas ke negara lain hingga kurun wak­tu 6-7 tahun ke depan. Namun, ker­jasama migas antara Irak dengan Indonesia, tetap berlangsung.  Pe­merintah Irak, seperti yang dikatakan Ketua DPR Marzuki Alie awal Mei lalu, berkomitmen untuk membantu Indonesia untuk membantu memasok kebutuhan minyak bagi Indonesia. Sementara untuk gas, dengan sikap pemerintah Irak tersebut, Indonesia rencananya akan memasok gas dari negara tetangga Irak, yakni Iran yang memang tengah gencar melakukan ekspor gas ke berbagai negara.  Bahkan, Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan, telah melakukan pendekatan dengan Iran melalui kunjungan langsung ke negara tersebut dalam rangka memenuhi pasokan gas bagi PLN. ■

Author :

Tags : Manca Negara

0 Komentar

Berikan komentar anda

Top