Peningkatan SDM Melalui Si-Ujo

Author : Administrator
Peningkatan SDM Melalui Si-Ujo
Sumber daya manusia (SDM) merupakan asset berharga perusahaan. Ini rupanya juga disadari oleh manajemen Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tidak heran, banyak program yang dirancang untuk pengembangan pegawai. Sasaran utama peningkatan kompetensi pegawai adalah agar dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan PLN.

Memang keberhasilan dan pertum­buhan suatu organisasi tergantung pada kepemimpinan yang kuat, kualitas produk dan layanan, proses efisien dan SDM yang terampil dan berkomitmen pada perusahaan. Bagi pegawai sendiri, sebenarnya ada tanggung jawab yang harus dipikul. Yaitu menggerakkan pencapaian organisasi dan berkontribusi bagi keberhasilannya.

Perusahaan berkewajiban untuk menyediakan berbagai program yang mendukung pencapaian kinerja pegawainya. Apalagi bila itu berhubungan langsung dengan kompetensi pegawainya. Ini juga disadari PLN.
PLN mempunyai beberapa program diklat dirancang untuk menghasilkan pegawai yang berkompetensi tinggi. Artinya mumpuni hard maupun soft skillnya,  yang pada saatnya nanti mampu memecahkan permasalahan di lingkungan kerja yang kompleks dan dinamis seperti saat ini.

 Baru-baru ini misalnya, PLN meluncurkan aplikasi uji kompetensi online yang diberi nama Si-Ujo (Sistem Ujian Online) di PLN Kantor Pusat. Sistem ujian online ini merupakan bagian dari implementasi sertifikasi kompetensi profesi bagi 42 ribu pegawai PLN di seluruh Indonesia yang secara serentak akan dilaksanakan pada September 2011.

Peluncuran Si-Ujo tersebut dilakukan Direktur Utama PT PLN, Dahlan Iskan didampingi Kepala Divisi Distribusi Direktorat Operasi Jawa Bali, Purnomo Willy dan Direktur SDM dan Umum PLN, Eddy D. Erningpraja.

Menurut Dahlan Iskan, Direktur Utama PLN, bagi pegawai yang lulus uji kompetensi akan diberikan sertifikat kompetensi personel sesuai bidang kerja masing-masing pegawai. Sertifikat ini merupakan bentuk pengakuan resmi perusahaan terhadap pegawai PLN yang nantinya dapat diakui baik secara nasional maupun internasional.

Ruang lingkup sertifikasi kompetensi personel yang akan menjadi domain adalah bidang pembangkit, transmisi, distribusi, niaga, dan bidang penunjang lainnya dengan sasaran utama adalah peningkatan kompetensi pegawai. Dalam jangka panjang diharapkan pegawai dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas layanan pelanggan PLN.

Menurut Dahlan, sertifikat kom­petensi pegawai PLN dikeluarkan oleh PT PLN (Persero) Unit Sertifikasi, yang merupakan salah satu unit pelaksana bidang Pendidikan dan Pelatihan. PLN Unit Sertifikasi sedang dalam proses membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang mendapatkan akreditasi dari institusi yang berwenang.

PT PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat), adalah salah satu unit bisnis PLN. Lembaga ini berdiri sejak tahun 1973 dan melayani diklat untuk lebih dari 40.000 pegawai. Selain itu, juga memiliki 10 unit diklat yang tersebar diseluruh Indonesia, dari barat ke timur: Tuntungan, Padang, Suralaya, Jakarta, Bogor, Semarang, Pandaan, Banjarbaru, Makassar, serta unit assessment centre dan unit sertifikasi.

Sebagai Pusat Pendidikan dan Pelatihan, PLN Pusdiklat berkomitmen untuk memberikan pelatihan dan layanan yang unggul. Kualitas pelayanan dan administrasi pelatihan pada beberapa unit diklat telah dibuktikan dengan sertifikat ISO 9001:2008. PLN Pusdiklat memiliki tenaga ahli yang kompeten di bidangnya mulai dari pembangkitan, transmisi, distribusi, niaga, lingkungan dan K2, keuangan, SDM, pendidikan dan pelatihan, teknologi informasi, hukum, komunikasi, administrasi, manajemen.

Selain itu, PLN Pusdiklat melalui program diklatnya mampu membantu mewujudkan hal tersebut, karena program-program diklat yang dirancang berbasiskan kompetensi untuk memastikan keselarasan antara tujuan organisasi dan tujuan individu.

Kompetensi yang diinginkan dimiliki pegawai PLN adalah kompetensi inti, kompetensi peran, dan kompetensi bidang. Kompetensi bidang dimaksud­kan untuk mampu melakukan pekerjaan secara teknis dan mampu bekerja secara mandiri. Kompetensi inti dan peran yang termasuk kemampuan untuk bekerja sama secara kelompok.
Sistem Ujian Online sendiri, disebutkan Dahlan, merupakan hasil karya dari para pegawai PLN sendiri yang terdiri dari tim pembuat aplikasi online dan tim penyusun soal-soal uji kompetensi.

Si-Ujo diharapkan akan menjadi ke­bang­gaan bagi karyawan PLN. Karena menurutnya, melalui sistem ini karyawan PLN bisa membuktikan bahwa dirinya ternyata orang yang kompeten bekerja di bidangnya. “Implementasi sertifikasi komptensi profesi bagi karyawan PLN ini akan jadi suatu kebanggan, meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri yang luar biasa bagi karyawan PLN,” tambah Dahlan.

Purnomo Willy, yang menjadi ketua komite profesi ini, menjelaskan, aplikasi Si-Ujo tersebut merupakan hasil karya inovasi karyawan PLN dan telah diujicobakan kepada 20.412 karyawan, serta yang menyelesaikan soal sebanyak 14.500 karyawan dengan hasil yang cukup menggembirakan.

Sudah banyak perusahaan dan industri yang mengharuskan pegawai untuk kompeten di bidangnya. Di industri keuangan misalnya, perbankan dan asuransi adalah pihak-pihak yang gencar melakukan sertifikasi bagi pegawai atau karyawan di industrinya.

Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (BSMR) adalah salah satunya. Lembaga ini mengaku siap melakukan sertifikasi terhadap para bankir di Indonesia untuk memenuhi Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 11/19/PBI/2009 tentang Sertifikasi Manajemen Risiko bagi pengurus dan pejabat bank.
Bank Indonesia memang mewajibkan setiap pengurus dan pejabat bank yang menduduki posisi strategis harus sudah memiliki sertifikat manajemen risiko paling lambat 3 Agustus 2011.
Menurut Ketua Harian BSMR Gandung Troy, pihaknya sudah menambah waktu ujian sertifikasi dari satu kali per bulan menjadi dua kali sebulan hingga akhir Desember 2011 untuk memenuhi target jumlah bankir yang memiliki sertifikat manajemen risiko.

Dalam ujian yang dilakukan, BSMR juga sudah melakukan update mengenai manajemen risiko yang dicocokkan dengan standar internasional untuk meningkatkan kompetensi para bankir.
Hingga kini lebih dari 52.000 bankir yang sudah mengempit sertifikasi dari BSMR mulai dari level I hingga level V. BSMR mengklaim hingga kini rata-rata kelulusan dalam sertifikasi BSMR mencapai 70% hingga 75%. BSMR mengenakan biaya mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 6,5 juta untuk sertifikasi.
Asosiasi asuransi umum Indonesia (AAUI) telah menyertifikasi sekitar 3.000 agen asuransi umum dan ditarget bisa mencapai 7.500 lebih seperti permintaan regulator.  AAUI juga memperluas materi ujian keagenan yang sekarang mencakup produk asuransi kebakaran, kendaraan bermotor, personal accident, dan marine cargo.

Sedangkan untuk sertifikasi agen asuransi syariah, baru dimulai awal 2011 Targetnya, seluruh agen yang menjual asuransi syariah harus bersertifikasi. Selanjutnya akan ada sertifikasi utuk frontliner hingga operator telepon. Sertifikasi dilakukan oleh tim independen.
Agen yang bukan merupakan bagian dari struktural organisasi perusahaan wajib disertifikasi karena secara langsung menawarkan produk asuransi syariah kepada calon peserta. Sertifikasi dilakukan agar hanya agen yang benar-benar memahami produk dan konsep asuransi syariah yang menjual produk tersebut.

Uji Komptensi
di Banyak Perusahaan


Diantaranya, menurut Purnomo adalah sebanyak 12 persen dari penjawab soal mampu melebihi kompetensi yang dimilikinya, 61 persen menjawab sesuai kompetensinya, 11 persen berada pada posisi minus satu (belum kompeten), dan 16 persen berada pada posisi minus dua (sangat tidak kompeten).

“Seluruh karyawan PLN se-Indonesia akan melaksanakan uji kompetensi profesi ini pada bulan September. Nantinya, setelah melakukan hard competency, karyawan harus melewati juga uji soft competency dan setelah dinyatakan lulus akan diberikan sertifikasi profesi sesuai bidangnya masing-masing,” pungkasnya. ■


0 voters

3 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas