Peran Sentral Industri Kelistrikan 2012

Author : Administrator
Peran Sentral  Industri Kelistrikan 2012Ekonomi Indonesia di 2012 tetap menuai optimisme. Walaupun banyak pengamat yang belum bisa memprediksi secara pasti kondisi riil yang akan terjadi kedepannya. Salah satunya karena krisis ekonomi global yang masih membayangi perekonomian dunia di 2012. Dampak terbesarnya memang menghinggapi negara-negara Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS).
Indonesia tentu saja memang harus berhati-hati. Bank Indonesia  (BI)  memang memprediksi pertumbuhan potensial perekonomian Indonesia berada pada tingkat 7,0%, bila pertumbuhan investasi minimal 12,0% setiap tahun.

Tetapi tentu saja ini harus didukung lingkungan makroekonomi yang kondusif  dan  adanya pertumbuhan  investasi, baik berupa mesin, bangunan pabrik, termasuk juga investasi yang bersifat intangible seperti riset dan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM).
Optimisme ekonomi Indonesia juga “menjalar” ke bidang energi dan kelistrikan. Bidang kelistrikan dan energi walaupun menghadapi sejumlah tan­tangan yang tidak mudah di 2012, tetapi menyuarakan optimismenya.
Dengan tar­get pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan menurun pada 2012, daya beli masyarakat pada tahun depan juga diperkirakan akan ikut melemah. Sejumlah ekspansi sektor kelistrikan di 2012 akan terus berlangsung termasuk target pencapaian sekitar 5 juta pelanggan listrik, target pemasangan solar sel pada 1.000 pulau, pemasangan kabel bawah laut di sejumlah daerah ter­masuk dimulainya pembangunan inter­koneksi melalui kabel bawah laut yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera.

Selain itu ada pembangunan infrastruktur sejumlah pembangkit listrik baik PLTU, PLTA, PLTD, ataupun penggunaan bauran energi panas bumi sebesar 20% dan batu bara 30% dalam bentuk bauran energi primer yang harus dicapai sampai 2014 mendatang.
Pemerintah juga berencana menaikkan tarif listrik di 2012. Kenaikan tarif dasar listrik didasarkan dengan asumsi adanya penurunan subsidi listrik menjadi sekitar Rp 45 triliun pada APBN 2012 mendatang.
Namun dibalik tantangan, sektor kelistrikan masih bisa bernafas lega. Antara lain karena adanya perkiraan Indonesia yang berada dalam per­tumbuhan ekonomi yang positif, penurunan country risk Indonesia sehingga pemerintah melalui PLN berkesempatan meng­gali sumber dana melalui pener­bitan surat utang global untuk pem­ba­ngunan infrastruktur kelistrikan. terutama untuk meningkatkan ra­sio elektrifikasi nasional sebesar 73,6% pada 2012.

Di 2012, sektor kelistrikan juga terbantu dengan rencana PLN untuk menekan Biaya Pokok Produksi (BPP). PLN akan fokus memaksimalkan produksi listrik non Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurut Direktur Utama PT PLN Nur Pamudji, akhir Desember lalu, target  penggunaan BBM untuk pembangkit pada tahun 2012 mencapai 7,49 juta kiloliter atau  turun sekitar 30 persen dibandingkan perkiraan konsumsi konsumsi BBM 2011.
Penurunan penggunaan BBM 2012 sejalan dengan peningkatan target penerapan ‘fuel mix’ dan pasokan bahan bakar gas.

Di 2012 target “fuel mix” BBM mencapai 17,73 persen turun signifikan dari tahun 2011 sebesar 27,4 persen. Target volume penggunaan batubara 2012 mencapai 39,6 juta ton atau naik 34 persen dibanding proyeksi realisasi 2011, volume penggunaan gas 356,36 TBTU atau naik 25 persen dibanding perkiraan atau estimasi realisasi 2011.
Sementara untuk mengalokasikan anggaran belanja modal pada tahun 2012, PLN menetapkan sebesar Rp69,123 triliun. Jumlah ini lebih tinggi dibanding belanja modal tahun 2011 sebesar Rp60 triliun.
PLN juga terus menggiatkan pembangunan PLTU. sehingga biaya pokok penyediaan listrik bisa lebih murah. Peresmian operasional PLTU Tanjung B Ekspansi unit 3, bersamaan dengan operasional PLTU 1 Banten - Suralaya dan PLTU 3 Banten - Lontar akan sangat signifikan dalam upaya itu karena menghemat biaya bahan bakar hingga Rp. 19,9 miliar per tahun.

Kebutuhan listrik di Jawa - Bali yang terus meningkat, diharapkan dapat terus terpenuhi, termasuk melalui ketiga PLTU yang baru saja diresmikan. Saat ini, beban puncak rata-rata di sistem kelistrikan Jawa - Bali mencapai 19.700 MW. Beroperasinya ketiga pembangkit, menopang kemampuan memproduksi daya listrik hingga 23 ribu MW.  Pembangunan PLTU juga merupakan upaya menekan penggunaan BBM.
 Beberapa program kelistrikan diharapkan akan meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat. PLN juga terus melakukan terobosan seperti menambah sambungan baru melalui program Go-Grass (Gerakan Sehari Sejuta Sambungan).

Lalu ada program tambah daya gratis yang diperpanjang hingga akhir Desember 2011. Gerakan melakukan penggantian kWh meter yang sudah tua secara massal dan serentak di seluruh wilayah Indonesia. PLN menargetkan penggantian 2,5 juta kWh meter baru di seluruh Indonesia pada tahun ini.
Menteri BUMN Dahlan Iskan yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PLN mengatakan bahwa reformasi dan transformasi di PLN akan terus berlanjut sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan saat ada sosok Dirut baru di tubuh BUMN listrik itu. Dengan kata lain, kelistrikan di tanah air akan lebih baik kedepannya.
Optimisme sektor kelistrikan makin besar dengan peran perusahaan swasta  yang terus berkonsentrasi di sektor kelistikan dan energi. Peran pihak swasta untuk turut membangun sektor kelitrikan di 2012 tentu menjadi penting. Apalagi di saat ekonomi global yang semakin tidak jelas dan menimbulkan keengganan banyak pihak untuk berinvestasi. Salah satu perusahaan yang sudah menetapkan komitmennya adalah PT Pertamina Geotermal Energi (PGE).  

PGE akan fokus membuat listrik secara mandiri dari energi panas bumi mulai tahun 2012. Tujuannya memperbanyak penyediaan listrik minim polusi di Indonesia. Hingga tahun 2011, PGE sudah mengeksplorasi panas bumi sebanyak 1.560 MW.  
Menurut Direktur Utama PGE Slamet Riyadi  saat ini pihaknya masih terus melakukan pengembangan terhadap sejumlah pembangkit. Diantaranya pembangkit Hulu Lais 2 x 55 mega watt, Kotamobagu 2 x 20 mega watt dan Karaha diperkirakan akan menghasilkan listrik sekitar 60 mega watt.
PGE berencana akan menginvestasi­kan lebih dari USD2 miliar untuk menambah pengembangan panas bumi berkapasitas 1.050 Megawatt (MW) dalam kurun waktu 2011-2015. Dalam pengembangan energi panas bumi PGE telah menggunakan tiga model bisnis. Pertama, perseroan memproduksi uap yang kemudian di jual kepada PLN untuk dikonversi menjadi energi listrik.

Kedua, PGE juga memproduksi uap sekaligus listrik dan mensupply kepada PLN melalui transmisi yaitu di wilayah operasi Kamojang dan Sibayak dengan kapasitas masing-masing 60 MW serta 2 MW.
Model bisnis ketiga yaitu kolaborasi dengan pengembang listrik swasta (IPP) dengan sistem kerjasama Joint Operation Aggrement (JOA), ini terjadi di wilayah operasi Salak, Darajat, Wayang Windu, Sarulla dan Bedugul (Bali).

Pemerintah menargetkan pengem­bangan panas bumi bisa mencapai angka 12.300 MW pada 2025. Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan panas bumi sehingga menjadi yang terbesar  di dunia.
Pada tahun 2014, diharapkan pengembangan sudah bisa mendekati 3500 MW, dimana PGE akan meng­operasikan sendiri sebesar 3.000 MW. Indonesia sendiri disebut-sebut memiliki prospek panas bumi yang dihasilkan dari cincin gunung berapi di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, dari 250 yang berpotensial, 150 gunung api telah teridentifikasi.

Perusahaan lain seperti  PT Wijaya Karya (Persero) Tbk terus memperkuat investasi dibidang energi dan kelistrikan. Di 2012 Wika berencana berinvestasi untuk PLTG Siak 28 MW dengan nilai kontrak Rp 350 miliar dan kerjasama investasi PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro) 13 MW Jawa Barat Rp 300 miliar.
Pada Februari 2011, Wika sudah menyelesaikan proyek investasi pertama dibidang energi yaitu PLTD Pesanggaran Bali 3x18 MW yang memakai sistem BOT (Build, Operate, Transfer) . Wika juga tengah melaksanakan 3 proyek investasi pembangkit yaitu PLTD Ambon 25 MW, PLTD Borang 60 MW dan PLTG Rengat 20 MW. Target total penjualan per tahun mulai 2012 hingga 2019 dari keempat proyek investasi tersebut adalah Rp 469,99 miliar dengan total laba per tahun Rp 46,99 miliar.

Perusahaan lain seperti Zug Industry Indonesia malah membuat pabrik baru sebagai perluasan dari bangunan sebelumnya. Perusahaan ini bergerak di bisnis engineer design dan power plan system. Perusahaan kelistrikan ini juga terus mengembangkan banyak inovasi untuk kelistrikan di tanah air.
Namun harus diakui pengembangan kelistrikan di tanah air masih terkendala masalah infrastruktur. Badan Peren­cana­an Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai masalah infrastruktur kelistrikan di tanah air masih menjadi hambatan bagi pertumbuhan laju investasi kelistrikan secara keseluruhan. Penyediaan infrastruktur kelistrikan yang belum optimal disebabkan oleh pendanaan yang dinilainya masih kurang.
Sebelumnya Bank Dunia melalui survei doing business 2012 menurunkan rating iklim melakukan bisnis (investasi) di Indonesia dari posisi 126 menjadi 129. Penurunan peringkat salah satunya disebabkan lemahnya infrastruktur kelistrikan.

Namun optimisme tentu saja tetap ada. Pemerintah melalui PLN terus melakukan pemenuhan kebutuhan listrik. PLN menargetkan jumlah pelanggan yang menggunakan listrik pra bayar dapat mencapai 5 juta pelanggan di 2012, atau tumbuh 6% dari pelanggan pasca bayar saat ini yang sudah mencapai 3,5 juta pelanggan. Selain itu, pemerintah mendorong pembangunan pembangkit listrik independen (swasta) atau Indepen­dent Power Plant (IPP) agar dapat memasok listrik lebih banyak kepada PLN. Kerjasama yang baik antara pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang kelistrikan dan energi tentu saja akan membuat optimisme pengembangan kelistrikan selama 2012. kita tunggu saja.■


0 voters

1 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas