PLTU Pembangkitan Lontar Memperkuat Kelistrikan Jawa-Bali

PLTU Pembangkitan Lontar  Memperkuat Kelistrikan Jawa-Bali

Proyek Percepatan diversifikasi energi, Fast Track I terus digenjot untuk meningkatkan rasio elektrifikasi. Apa saja kendala dan tantangannya sehingga target yang diharapkan belum 100 persen tercapai di Tahun 2012.

Untuk mengetahui permasalahan dilapangan terkait pembangunan pembangkit FT I, Majalah Listrik Indonesia mencoba menggalinya dari GM PT PLN (Persero) Pembangkitan Lontar, Wiluyo Kusdwiharto. Berikut petikan jawabannya.

Bagaimana gambaran tentang perkembangan pembangunan infrastruktur kelistrikan pada tahun 2012 dan 2013 yang akan datang?

PT PLN (Persero) sebagai agen Peme-rintah Indonesia mengemban tugas untuk menyediakan listrik kepada semua lapisan masyarakat. Salah satu mata rantai pelaksanaan tugas tersebut adalah merencanakan dan melaksanakan proyek–proyek ketenagalistrikan dalam rangka peme-nuhan kebutuhan listrik di Indonesia. Pembangunan listrik pedesaan merupakan penugasan Pemerintah kepada PLN untuk melistriki masyarakat pedesaan yang pendanaannya diperoleh dari APBN dan diutamakan pada provinsi dengan rasio elektrifikasi yang masih rendah. Rasio elektrifikasi Nasional untuk tahun 2012 adalah 75,83%, sedangkan target rasio elektrifikasi tahun 2013 adalah 77,8% Untuk mendukung pencapai-an rasio elektrifikasi tersebut diperlukan tambahan kapasitas pembangkit + 3900 MW pada tahun 2013.

Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi pertumbuhan beban yang direncanakan dan pada wilayah tertentu diutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik. Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan yang diinginkan dengan mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat, terutama energi terbarukan. Pengembangan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya keseimbangan antara pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya pada distribusi di sisi hilir secara efisien dengan kriteria keandal-an tertentu.

Apakah ada kendala dalam pembangunan infrastruktur ini?

Kendala pembangunan infrastruktur  antara lain: Pembebasan lahan selama pra-konstruksi khususnya lokasi tanah kehutanan, untuk mendapatkan ijin pakai kawasan hutan memerlukan waktu rata-rata ­+ 1 tahun. Perijinan khusus terkait dengan pelabuhan khusus batubara memerlukan waktu rata-rata + 1 tahun.Sertifikasi tanah PLTU memerlukan waktu rata-rata + 3 tahun.

Dari 7 (tujuh) Unit Proyek yang ditangani PT PLN (Persero) Pembang-kitan Lontar, dimana proses pembebasan tanah mulai dilaksanakan pada tahun 2006 dan dilanjutkan dengan proses sertifikasi tanah yang mulai dilaksanakan pada tahun 2009. Namun sampai dengan tahun 2012 baru 1 (satu) proyek yang telah terbit sertifikat tanahnya yaitu PLTU 1 Jawa Tengah-Rembang.

Bagaimana peran PT PLN Pembangkitan Lontar dalam mendukung penguatan listrik Jawa – Bali ?

Berdasarkan pada Peraturan Presiden No. 71 tahun 2006 yang direvisi dengan Peraturan Presiden No. 59 tahun 2009, Pemerintah telah menugaskan PT PLN (Persero) untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara seba-nyak kurang lebih 10.000 MW untuk memperbaiki fuel mix dan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan demand listrik di seluruh Indonesia. Pemilihan ukuran unit PLTU batubara untuk sistem Jawa-Bali didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan kesesuaian dengan ukuran sistem tenaga listrik Jawa-Bali. Program ini dikenal dengan “Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW/FTP 1 (Fast Track Project Tahap 1)”.

PT PLN (Persero) Pembangkitan Lontar merupakan salah satu Unit PLN pada Direktorat Kontruksi yang bertugas untuk mengelola pembangunan sebagian besar proyek percepatan 10.000 MW di Jawa Bali. Wilayah kerja PT PLN (Persero) Pembangkitan Lontar terdiri dari 7 (tujuh) Unit Proyek PLTU di Jawa-Bali yang sudah COD yaitu : PLTU 2 Banten, Labuan kapasitas 2x300MW, PLTU Banten, Suralaya 1X625, PLTU Banten, Lontar kapasitas 3x315 MW, PLTU Jawa Barat, Indramayu 3x330, PLTU 1Jawa Tengah, Rembang 2x315MW, PLTU2 Jawa Timur, Paiton 1x660 MW, dan satu PLTU masih komisioning yaitu PLTU 1 Jawa Timur Pacitan 2x315 MW.

Sejak tahun 2009, PT PLN (Persero) Pembangkitan Lontar telah berhasil menyelesaikan proyek satu demi satu untuk membantu kebutuhan listrik sistem Jawa-Bali dengan total Produksi yang telah disalurkan sebesar 23.726 GWH dan total kapasitas Pembangkit terpasang sebesar  5.080 MW.

Berikut adalah beberapa wilayah/area yang mendapatkan manfaat secara langsung berupa sistem kelistrikan akibat dari terselesaikannya proyek yang dikerjakan PT PLN (Persero) Pembangkitan Lontar: PLTU 2 Banten, Labuan telah memperkuat sistem kelistrikan di area Pandeglang, Cilegon dan sekitarnya serta wilayah Provinsi Banten. PLTU 1 Banten, Suralaya telah memperkuat sistem kelis-trikan di area Cilegon dan sekitarnya serta wiayah Provinsi Banten, PLTU 3 Banten, Lontar telah memperkuat sistem kelistrik-an di area Tangerang dan DKI Jakarta. PLTU 1 Jawa Barat, Indramayu telah memperkuat sistem kelistrikan di area Indramayu, Cirebon dan sekitarnya serta wilayah Provinsi Jawa Barat. PLTU 1 Jawa Tengah, Rembang telah memperkuat sistem kelistrikan di area Rembang, Pati dan sekitarnya serta wilayah Provinsi Jawa Tengah. PLTU 2 Jawa Timur, Paiton telah memperkuat sistem kelistrikan di area Probolinggo dan sekitarnya serta wilayah Provinsi Jawa Timur. PLTU 1 Jawa Timur, Pacitan telah memperkuat sistem kelistrikan di area Pacitan, Wonogiri dan sekitarnya serta wilayah Provinsi Jawa Timur.

Bagaimana perkebangan pembangunan PLTU Pacitan,Apakah bisa beroperasi pada tahun 2012 untuk memenuhi kekurangan proyek fast track tahap I?

Pada saat ini masih terdapat 1 (satu) Proyek yaitu PLTU 1 Jawa Timur, Pacitan yang belum selesai (COD). Namun PLTU 1 Jawa Timur, Pacitan telah menghasilkan energi listrik dalam mensuplai sistem kelistrikan Jawa-Bali selama fase plain komisioning yang ditandai dengan sinkron atau dapat disebut terkoneksinya dengan sistem kelistrikan Jawa-Bali pada: Unit 1 22 Mei 2012, Unit 2  6 September 2012.

Proyek PLTU 1 Jawa Timur, Pacitan dibangun diatas lahan seluas 65 ha, terletak di laut selatan pulau Jawa, Desa Sukorejo, kecamatan Sidomoro, sekitar 30 km arah timur Pacitan, Propinsi Jawa Timur. Proyek PLTU 1 Jawa Timur, Pacitan ini memiliki dua unit pembangkit dengan kapasitas total tenaga listrik yang dihasilkan sebesar 630 MW, dimana kapasitas masing-masing unit pembangkit sebesar 315 megawatt. Kebutuhan Batubara  1.900.000 ton/tahun, 4020 ton/hari, per unit (167 ton/jam). Energi listrik yang dihasilkan PLTU 1 Jawa Timur, Pacitan disalurkan melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV sepanjang 35,65 kilometer ke Gardu Induk Pacitan Baru dan sepanjang 84,8 kilometer ke Gardu Induk Wonogiri.

Berdasar dengan kondisi progress diatas, Commercial Operation Date (COD) PLTU 1 Jawa Timur, Pacitan ditargetkan tercapai pada Bulan Februari 2013 untuk Unit 1 dan Maret 2013 untuk Unit 2. Namun, selama komisioning Unit PLTU Pacitan sebenarnya telah beroperasi dan menghasilkan energi listrik yang disalurkan ke sistem Jawa-Bali khususnya pada saat Reliability Run test (RR).

Author :

Tags : Infrastruktur
Top