Transformasi Organisasi, Menyulap Perusahaan Agar Bertahan

Author : Administrator
Transformasi Organisasi, Menyulap Perusahaan Agar Bertahan

Sudah banyak perusahaan-perusahaan yang gagal dalam menyesuaikan dengan perubahan. Ada dua pilihan, mereka tertinggal oleh pesaing-pesaingnya dan mati. Namun sebaliknya, banyak perusahaan yang akhirnya besar karena terus berinovasi menyongsong perubahan.

Di Indonesia, perusahaan seperti Gudang Garam atau BNI 46 sampai hari ini masih sehat di usia lebih seratus tahun. Tentu saja mereka tidak selalu mengalami masa kejayaan. Ada masa-masa sulit dalam melewati  zaman yang terus berubah.

Kuncinya ternyata adalah mereka mampu berubah dan menyesuaikan diri. Organisasi memang harus dipaksa untuk berubah. Jika tidak segera berubah maka organisasi atau perusahaan bisnis akan tertinggal jauh oleh pesaing-pesaingnya.

Seluruh tindakan serta proses organisasi memang akan menentukan berhasil ataupun gagalnya proses tersebut. Namun yang harus disadari sebuah perusahaan atau organisasi bisnis pastilah digerakkan oleh manusia (people). Walaupun manusia tentu saja harus dibantu berbagai instrumen lain misalnya saja teknologi yang handal. Yang jelas, organisasi tidak mungkin bergerak tanpa people. Inilah pentingnya mengelola people secara lebih intensif.

Salah satu langkah pengelolaan SDM dalam sebuah perusahaan adalah melakukan transformasi atau perubahan. Banyak pengertian tentang transformasi. Dari berbagai pengertian tersebut transformasi dapat disimpulkan sebagai suatu proses perubahan dari suatu kondisi ke kondisi lain untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.

Transformasi organisasi akan mem–bawa organisasi dari bentuk dan sistem yang lama ke bentuk dan sistem yang baru. Perubahan ini bisa bermakna luas. Keinginan berubah bisa di-drive dari luar atau merupakan dorongan dalam diri untuk mencapai suatu situasi yang lebih baik.

Transformasi organisasi senantiasa diawali oleh suatu kebutuhan yang ber–kaitan dengan tuntutan bisnis. Biasanya perubahan digunakan untuk berbagai alasan misalnya ketika perusahaan mengenalkan aturan baru, ketika menetapkan sasaran baru, strategi dan pernya-taan visi misi organisasi.

Namun secara umum, menurut Yodhia Antariksa, konsultan SDM, ada tiga prinsip penting dalam mengelola perubahan.  Satu, perubahan hanya dapat terjadi jika setiap orang membuat keputusan untuk menerapkan perubah-an. Artinya dalam sebuah perusahaan atau organisasi bisnis, harus ada kekompakan atau tim yang solid untuk bersama-sama melakukan langkah perubahan kearah yang lebih baik.

Dua, semua orang dalam perusahaan harus terlibat untuk menentukan bagian yang paling efisien dalam mencapai hasil yang maksimal. Tiga, lakukan perubahan pada sistem. Melakukan  perubahan ter-hadap individu bukan hal mudah. Maka hal tercepat adalah mengubah sistemnya.

Secara umum, perubahan dalam organisasi hanya dapat diterapkan jika setiap orang dalam organisasi bertanggung jawab dan menerima untuk melakukan cara baru dalam melakukan sesuatu.

Selain itu yang tidak kalah penting adalah melakukan motivasi tim. Ini  merupakan teknik lain yang dapat digunakan untuk mengelola perubahan. Dengan cara ini seorang manajer menyadari bahwa pekerja akan membawa motivasi tingkat individu mereka ke tempat kerja dan mereka cenderung bekerja sama dalam sebuah tim.

Teknik lain yang efektif dalam mengelola perubahan dalam organisasi adalah melibatkan semua departemen pada saat mengambil keputusan mengenai perubahan yang akan digunakan.

Dengan melakukannya, maka setiap aspek perubahan yang akan dilakukan akan jauh lebih sukses.

Empat tipe people
John Kotters mengatakan manajemen perubahan yang efektif akan menjadi lebih efektif jika seseorang melihat pentingnya dampak perubahan tersebut bagi individu maupun organisasi secara keseluruhan. Seseorang juga menyadari makna perubahan tersebut sehingga mereka menjadi lebih efektif dan dapat diandalkan dalam organisasi. Tetapi tanpa kesadaran itu, mereka dipastikan malas mengadopsi perubahan baru.

Sebelum mengelola people dalam organisasi, ada empat tipe individu yang harus dikenali. Pertama, individu sebagai  agen perubahan. Kemudian,  kedua mereka yang hanya berperan sebagai penonton.

Dalam perusahaan akan juga ditemui mereka yang cuek bebek atau tidak peduli. Perusahaan mau berubah atau tidak, tipe ini tidak akan peduli. Tetapi diantara semua itu, ada tipe keempat yang membahayakan. Yakni tipe detractor atau orang yang menghambat perubahan.

Pada akhirnya, pertanyaan kunci dalam transformasi adalah keberhasilannya. Dalam hal ini keberhasilan pengukur-annya jelas mengacu pada apakah tujuan dari transformasi tersebut tercapai atau tidak. Indikatornya antara lain organisasi bertumbuh dan eksis, pendapatan dan laba meningkat dan indikator lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan. Siapkah melakukan transformasi?

Peran Gen Y

Saat ini transformasi organisasi juga harus memperhitungkan pengelola para Gen Y. Saat ini sudah banyak Gen Y yang memiliki peran penting,  Dan perilaku gen Y ini memerlukan pendekatan tersendiri. Gen Y sendiri adalah generasi yang lahir pada 1979 hingga 1994, dan saat ini sudah masuk dalam dunia kerja. Mereka menginginkan freedom, customization, authority, dan memiliki high expectation terhadap dirinya sendiri.

Karakter unik yang dimiliki Gen Y ini pada akhirnya menuntut perusahaan untuk lebih kreatif dalam menyusun rancangan sistem kerja bagi generasi muda tersebut sehingga kemampuan mereka teraktualisasi dengan baik. Beberapa perusahaan sudah membebaskan mereka untuk memilih skema kerja seperti apa yang mereka inginkan. Tentu saja dengan tanggung jawab yang jelas.

Beberapa perusahaan juga menerapkan flexibility. Contohnya Microsoft Indonesia.salah satu bisa dilihat dari cara mereka berpakaian saat bekerja, jam masuk kantor, dan tempat kerja dengan desain yang menarik. Moto di perusahaan mereka “Come as you are do what you love and love what you do!”



1 voters

0 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas