Indika Energy Tampil Lebih Agresif

Indika Energy Tampil Lebih Agresif

Pada kuartal I tahun 2012 perseroan berhasil membukukan pendapat-an sebesar USD162 juta. Perolehan ini melonjak 90% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai USD86 juta dengan laba bersih sebesar Rp1,2 triliun. Sementara pada 2010,  Indika Energy mencatat laba bersih sebesar Rp772,72 miliar atau naik tipis 6,48% dibandingkan periode sebelumnya Rp725,67 miliar. Dimana pendapatan perseroan saat itu naik signifikan dari Rp2,48 triliun menjadi Rp3,76 triliun.

Prestasi itu terungkap saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Indika Energy Tbk (INDY) pertengahan Juni 2012. Dalam kesempat-an yang sama, disepakati untuk pembagian deviden tunai tutup buku tahun 2011 sebesar Rp312,61 miliar atau setara dengan Rp60 per saham.

Direktur Utama Indika Energy M. Arsjad Rasjid mengungkapkan, angka tersebut berarti sekitar 25% dari laba bersih yang diperoleh perseroan di 2011. Selain itu perseroan juga menyimpan Rp10 miliar dari hasil laba 2011 sebagai dana cadangan.

Seperti diketahui, Indika Energy merupakan perusahaan papan atas yang ikut memiliki perusahaan-perusahaan di sektor energi, seperti PT Kideco Jaya Agung dan PT Santan Batubara yang memproduksi batubara. Selain itu, Tripatra di sektor gas, PT Petrosea Tbk. serta perusahaan lain seperti PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk., PT Sea Bridge Shipping, PT Cotrans Asia dan PT Cirebon Electric Power.

Sementara terkait sektor transportasi dan logistik khusus pertambangan, melalui anak perusahaan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), Indika Energy mencetak laba bersih sebesar Rp246,7 miliar pada 2011 atau meningkat sekitar 42% dibanding perolehan pada 2010 sebesar Rp198,3 miliar. Sementara pendapatan perseroan mencapai Rp1,07 triliun atau meningkat 40% dari perolehan di 2010 yang tercatat sebesar Rp763,32 miliar.

Prestasi ini membuat MBSS optimis dapat mecapai target laba bersih hingga Rp 295,27 miliar di penghujung 2012. Angka tersebut naik 20% dari pencapai-an di akhir 2011 lalu, sebesar Rp 246,06 miliar. Pencapaian laba tersebut dihasilkan dari peningkatan pendapatan antara 25–30%. Dengan target tersebut artinya perseroan akan mencetak pendapatan sebesar Rp 1,388 triliun, dimana pada penghujung tahun lalu MBSS membukukan pendapatan sebesar Rp 1,07 triliun.

Untuk mencapai target tersebut, MBSS tahun ini mencanangkan belanja modal sebesar US$ 50 juta. Dana capex tersebut sebesar 30% diperoleh dari dana internal dan sisanya akan dibiayai pinjaman perbankan. Adapun dana sebesar itu akan digunakan untuk pembelian enam armada baru dan pelunasan empat armada yang sudah dipesan sejak 2011 lalu dan datang pada Juni 2012 ini.

Tahun lalu, MBSS telah membeli 24 armada baru dimana 18 armada sudah diantar di 2011. Sedangkan enam armada dikirim di 2012. Dari enam itu, dua sudah diterima perusahaan di kuartal 1 lalu dan empat lainnya diterima pada Juni 2012.

Jika tahun ini akan kembali melakukan pembelian enam armada untuk menambah jumlah yang telah tersedia, maka hal ini sudah sesuai dengan janji perseroan pada saat IPO - yang akan mendatangkan 30 armada baru sepanjang 2011-2012.

Di sisi lain, tahun ini MBSS memiliki utang bank jatuh tempo sebesar Rp270 miliar. Pelunasannya akan menggunakan kas internal perusahaan. Sementara itu, sesuai keputusan RUPS, MBSS akan membagikan dividen senilai total Rp75,3 miliar.

Menurut Presiden Direktur MBSS Rico Rustombi, nilai tersebut sekira 31% dari laba bersih perseroan tahun buku 2011 yang tercatat sebesar Rp246,7 miliar. Nilai deviden per saham mencapai Rp43 per lembar saham. Selanjutnya, sisa laba bersih yang mencapai Rp500 juta akan dialokasikan untuk dana cadangan per-seroan. Sedangkan seluruh sisa laba bersih akan ditempatkan dalam pos laba ditahan untuk kepentingan pengembangan usaha perseroan di bidang jasa transportasi dan logistik batu bara.

Strategi Akuisisi
Berdiri pada 2000, awalnya Indika ditahbis dengan nama PT Dipta Diwangkara. Perusahaan ini bergerak dalam bidang jasa, perdagangan umum, pembangunan, pengangkutan, dan pertambangan.

Agustus 2004, Dipta Diwangkara berganti nama menjadi PT Indika Inti Energi. Perkembangan Indika sendiri tidak lepas dari keberadaan PT Tripatra Engineering yang bergerak di bisnis rekayasa engineering dan konstruksi, sejak 1973.

Pada 22 April 2004, Indika mulai ber-ekspansi dengan meminang 41% saham PT Kideco Jaya Agung senilai US$149,65 juta. Juni 2008, Indika melakukan penawaran saham perdananya ke publik. Dan medio Juli 2009, Indika dengan mulus mengakuisisi saham Petrosea.

September 2009, Indika menggandeng investor asal Korea dan Jepang untuk terlibat dalam proyek pembangkit listrik berkapasitas 600 megawatt di Cirebon. Dalam proyek tersebut, Indika membentuk perusahaan patungan bernama Cirebon Electric Power dengan hak kepemilikan saham sebesar 20%. Proyek yang menelan investasi hingga Rp5 triliun itu, bertujuan untuk memproduksi listrik daerah.

Indika mengintegrasikan bisnis secara terpadu melalui akuisisi guna memperkokoh lini bisnis perusahaan. Maka, pada awal April 2011, Indika kembali mengakuisisi 892,5 juta lembar saham atau sekitar 51% saham milik PT Mitrabahtera Segara Sejahtera (MBSS) senilai US$167,78 juta.

Akuisisi Mitrabahtera sesuai dengan option agreement yang telah disepakati pada 29 November 2010 lalu. Kala itu, pemegang saham MBSS, PT Patin Reources, Inggrid Ade Sundari Prasetya dan Patricia Pratiwi Suwati Prasatya menyetujui untuk melepas 51% saham MBSS kepada Indika.

Pada 6 April lalu, MBSS memutuskan untuk melantai di bursa, dengan melepas 215 juta lembar saham atau sekitar 12,3 persen. Menurut Wishnu, aksi akuisisi tersebut diharapkan dapat memperkokoh posisi perusahaan di bidang pertambangan batu bara, layanan dan infrastruktur.

Setelah merampungkan proses akuisisi, Indika akan segera menyinergikan dua manajemen dalam memetakan dua konsep rencana strategi. Pada April 2011, Indika juga membentuk PT Indika Indonesia Resources (IIR), yang bertugas untuk menjalankan usaha dalam bidang jasa pertambangan dan perdagangan batu bara. Pembentukan IIR dijalankan INDY dengan menggandeng anak usahanya, Indika Capital Pte Ltd.

Modal dasar pembentukan IIR mencapai Rp1 miliar. Baik Indika dan Indika Capital memiliki nominal saham masing-masing sebesar Rp1 juta. Dimana modal ditempatkan dan modal disetor mencapai Rp250 juta. Sementara itu, susunan pemegang sahamnya terdiri dari 90% saham INDY senilai Rp225 juta, dan sisanya sebesar 10% senilai Rp25 juta dipegang oleh Indika Capital.

Dengan berbagai ekspansi yang dijalankan Indika, perusahaan tersebut mengalokasikan belanja modal sebesar US$100 juta, untuk kegiatan operasional perusahaan dan anak-anak usaha-nya. Sebagian besar belanja modal itu dialokasikan untuk Petrosea.

Untuk memenuhi pendanaan atas belanja modalnya, pada 22 Maret lalu, Indika mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar US$130 juta dari Standard Chartered Bank dan UBS AG. Dana tersebut digunakan untuk pembiayaan kegiatan usaha perusahaan. Dari Standard Chartered, Indika mendapatkan pinjaman sebesar perseroan mendapatkan fasilitas US$65 juta yang jatuh tempo pada 29 April 2012. Dan pada 23 Maret 2011, Indika mendapatkan pinjaman dari UBS AG sebesar US$65 juta, yang jatuh tempo pada 29 April 2012.

Pada Mei 2011, Indika juga menerbitkan dua surat utang dengan nilai total mencapai US$300 juta. Surat utang pertama diterbitkan pada 5 Mei 2011, untuk surat utang 2018 sebesar US$115 juta dalam bentuk tunai oleh anak usahanya, Indika Energy Finance BV. Kedua, surat utang sebesar US$185 juta pada 16 Mei untuk penukaran surat utang 2012 yang akan jatuh tempo pada Juni 2012.

Tahun ini, Indika optimistis mampu memproduksi 33 juta ton batu bara, melalui dua anak usahanya. Di mana, Kideco Jaya Agung ditargetkan menyumbang 31 juta ton batu bara, dan sisanya disumbang oleh Santan. Dengan produksi mencapai 33 juta ton, dan harga jual batu bara mencapai US$63 per ton, maka Indika diprediksi mampu meraup keuntungan hingga US$2,079 miliar dari bisnis tambang batu bara.

Author :

Tags : Kiprah
Top