Zug Industry Indonesia EPC Lokal Meretas Pentas Bisnis Dunia
Author : Administrator
Adanya anggapan bahwa Zug Industry Indonesia hanya sebuah perusahaan kelas rumahan (bengkel), sungguh sangat tidak beralasan. Pasalnya, kiprah engineering, procurement and construction (EPC) ini belakangan semakin gencar di sektor ketenagalistrikan nasional khususnya pembangkitan.
Sampai saat ini, lebih dari 10 proyek pembangkit listrik yang telah dibangun dan dioperasikan. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PT Petro Kimia Gersik Jawa Timur, PLTU Biomassa diberbagai perusahaan refinery di Sumatera Utara, dan PLTGU Riau dengan kapasitas masing-masing 7-32 Megawatt (MW), adalah proyek-proyek yang telah berhasil dibangun dan dioperasikan perusahaan nasional tersebut.
Akhir-akhir ini juga mendapat kesempatan untuk menggarap sejumlah proyek PLTU di beberapa Negara Asia, seperti Philipina, Vietnam, dan Burma dengan kapasitas masing-masing mencapai 7-30 MW. Garapan sejumlah proyek itu mencakup engineering design, procurement, construction, dan pengoperasian pembangkit, bahkan mampu mendesain pembangkit combination cycle. Kemampuan ini sudah diterapkan pada PLTGU Riau yang kapasitas 10 MW dan rencananya akan dioprasikan di penghujung tahun 2011.
President Director PT Zug Industry Indonesia Henkie Leo mengungkapkan, sejumlah pengalaman itu menjadi modal utama bagi manajemen untuk mulai menggarap proyek pembangkit dengan skala dan kapasitas lebih besar. Karena itu dalam dua atau tiga tahun kedepan, Zug Industry akan masuk pada proyek pembangkit berkapasitas 100 MW.
“Kemungkinan itu sangat terbuka lebar karena kita memiliki tenaga ahli andal yang merupakan kombinasi antara engineer lokal dan internasional. Saat ini kita mempunyai senior engineer ekspatriat dari India, UK, China, Taiwan, dan Jerman yang memberikan pelatihan (training) langsung kepada engineer lokal di bidang boiler design dan power plant system,” ungkapnya.
Selama ini kemampuan hampir seluruh engineer lulusan perguruan tinggi lokal terbilang minim. Mengingat mata pelajaran tentang boiler design dan power plant system yang diterimanya kurang menyeluruh. Karena itu selain mendatangkan para ahli asing untuk menjadi trainer para engineer dalam negeri, perusahaan juga sengaja mengirim mereka ke kantor pusat di China untuk mengikuti pelatihan.
Mengingat pentingnya kualitas dan keandalan SDM bidang desain dan sistem pembangkitan, pada bulan September 2011 manajemen perusahaan telah menjalin kerjasama dengan sejumlah universitas terkemuka nasional, antara lain Universitas Sumatera Utara (USU) untuk saling bertukar pengetahuan. Nantinya, para mahasiswa akan mendapatkan pelatihan dari para engineer asing maupun lokal di bidang boiler design dan project management.
Upaya ini diharapkan dapat mencetak lebih banyak lagi tenaga ahli lokal yang benar-benar mampu mendesain PLTU untuk kebutuhan dalam maupun luar negeri. Dengan begitu, pengembangan bisnis sektor kelistrikan nasional bisa lebih cepat tanpa harus menunggu tenaga ekspatriat yang datang ke Indonesia.
Henkie Leo mengatakan, in house engineering capability yang dibangun selama ini merupakan salah satu upaya dalam mengimbangi ketatnya persaingan bisnis sektor ketenagalistrikan. Dalam operasionalnya, perusahaan ditopang oleh sembilan departement head lokal yang cukup senior pada masing-masing bidang dan sudah malang melintang di sejumlah perusahan EPC internasional.
Kesembilan departemen itu antara lain head boiler design, head mechanical design, head civil design, Head Instrument & Control (DCS), head electrical, dan head construction power plant. Nah, leader-leader itu bekerjasama secara langsung dalam melatih para engineer muda dalam negeri sehingga dipastikan kedepan, perusahaan memiliki ahli-ahli lokal yang cukup andal. Kombinasi tenaga ahli lokal dengan internasional ini diharapkan dapat mencetak engineer berkualitas dengan orientasi pada efektifitas dan efisiensi yang sangat tinggi.
“Kedepan, saya yakin bahwa selama kemampuan para engineer itu terus ditingkatkan, maka mereka akan mampu bersaing dengan ahli-ahli dari mancanegara termasuk China. Apalagi, di sana (China, red) tarif labor-nya akhir-akhir ini terus meningkat. Dengan begitu, kesempatan kita untuk masuk ke pasar internasional semakin terbuka lebar karena ongkos tenaga kerja Indonesia relatif lebih murah,” ucap Henkie Leo.
Sukses atau tidaknya pengembangan bisnis ketenagalistrikan, khususnya di sektor pembangkitan sangat bergantung pada seberapa besar penguasaan terhadap basic dan detail design power plant oleh para engineer-nya karena disitulah inti dari integrator yang selaras dalam menghasilkan produk berkualitas.
Selain itu, perusahaan juga harus membangun integrated manufacturing facility sebagai penunjang dari penciptaan sebuah produk yang telah didesain sesuai standar international. Untuk itulah, Zug Industry berani membangun pabrik baru di Indonesia dengan kapasitas super besar dan dilengkapi berbagai peralatan baru fully automatic dan cycle yang efisien.
Hal itu terbilang cukup unik, karena selain EPC yang telah teruji kepiawaiannya dalam mendesain, membangun, dan mengoperasikan pembangkit listrik juga sebagai boiler manufacturing yang berpengalaman. Bahkan sejak awal berdiri, perusahaan ini fokus dalam menyuplai kebutuhan industri swasta akan produk-produk bolier yang mayoritas pada saat itu masih impor.
“Jadi, selain piawai menjual kita juga memproduksi berbagai jenis boiler dan komponen mesin pembangkitan lainnya, termasuk balance of plant. Pengalaman dan kemampuan yang cukup memadai, memungkinkan bagi kita untuk tidak hanya bergantung pada pasar lokal tetapi harus go internasional,” tukasnya. ■
Pabrik Tercanggih di Indonesia
Beroperasinya pabrik baru sebagai perluasan dari bangunan sebelumnya, membuat manajemen Zug Industry Indonesia semakin percaya diri dalam merebut posisi nomor wahid di bisnis engineer design dan power plant system.
Mungkin sebagian orang tak akan menyangka bahwa perusahaan ini memiliki bangunan pabrik dan kantor cukup luas nan megah. Pasalnya, tampak di kawasan area gedung tersebut tidak tertata dengan rapih. Tetapi bila ditelusuri ke seluruh area berlokasi di Tegal Alur, Jakarta Barat itu ternyata terdapat gedung perkantoran dan bangunan pabrik yang cukup luas sekitar 3 hektar.
Pabrik yang baru dioperasikan sejak beberapa bulan lalu ini dilengkapi berbagai fasilitas permesinan baru serta modern, efisiensi tinggi, dan serba otomatis, seperti water wall welding panel, orbital welding, steam drum CNC welding, CNC cutting, dengan sistem robotik, dan CNC Drilling (multy spindle) heat treatmnet. Dengan kelengkapan fasilitas permesinan manufacturing itu manajemen perusahaan berani mengklaim sebagai satu-satunya pabrik boiler tercanggih di Asia Tenggara.
Demikian diungkapkan President Director Zug Industry Indonesia Henkie Leo kepada Listrik Indonesia, saat melakukan peninjauan pabrik awal Desember 2011. Bahkan, menurut Hengkie, pabrik-pabrik yang berada di China yang selama ini menjadi trend setter industri ketenagalistrikan nasional belum melengkapinya dengan mesin drilling jenis itu.
Hengkie menjelaskan, permesinan pabrik yang fully automatic tersebut membuat kemampuan produksi terus meningkat. Saat ini pabriknya, sudah mampu mendesain boiler berkapasitas 130 ton/jam lengkap dengan produk turunannya. Bahkan, kemampuan memproduksi komponen boiler mencapai 11.000 ton pertahun.
Sementara itu, Business Development Director, Heri Purnomo mengungkapkan kapasitas kelengkapan pabrik baru itu membuat manajemen semakin optimis dapat menjawab tantangan dari pemerintah untuk memenuhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) total pengoperasian bisnis sebesar 75%, mencakup SDM dan bahan baku industri.
“Kita sudah mampu memenuhinya karena hampir sebagian besar pembangkit berkapasitas di bawah 15 MW seluruh bahan bakunya kecuali boiler tube sudah diproduksi di Indonesia, hanya turbin yang masih diimpor dari luar negeri. Dengan permesinan yang dimiliki, kedepan akan dapat meningkatkan porsi kandungan lokal menjadi lebih besar lagi. Saat ini, kita sudah bisa membuat condenser dan heat exchanger HP & LP Heater, padahal sebelumnya masih harus mendatangkan dari luar negeri,” papar Heri Purnomo.
Tidak hanya itu, pabrik baru sebagai kelengkapan bisnis, juga telah memiliki sertifikasi ASME untuk stamp (A.U.S.R). Seluruh sistem pengoperasiannya telah mematuhi standar yang disyaratkan International, ASME (The American Society of Mechanical Enggineers). Kedepan, pihaknya berencana untuk mendapatkan sertifikat standar Eropa, CE (Conformite Euopeenne).
Strategi yang dilakukan manajemen dalam melengkapi fasilitas pabrik serba modern dan canggih itu, mulai menuai hasil. Betapa tidak, selain beberapa Negara di Asia, belum lama ini perusahaan mendapatkan tawaran dari beberapa perusahaan di Bangladesh dan Paskistan untuk mengerjakan proyek pembangkit tenaga uap.
“Kita sudah mendesain power plant batu bara dan biomass. Ini membuktikan bahwa kita termasuk salah satu company nasional yang sudah berhasil membangun power plant biomass tanpa kerjasama dengan asing. Jadi totally design by nasional dan sudah berjalan,” ucapnya. ■
Persiapkan Wanita Engineer
Hanya segelintir perusahaan bergerak di bidang design engineering dan power plant yang bersedia mempekerjakan tenaga wanita. Sebagian menganggap hampir seluruh jenis pekerjaan yang tersedia umumya berat dan tak layak dilakukan oleh perempuan.
Lain halnya dengan Zug Industry. Perusahaan ini justru menjunjung tinggi emansipasi wanita, dengan membuka peluang pekerjaan bagi para wanita meskipun jenisnya cukup berat yang secara kasat mata hanya mampu dilakukan oleh kaum pria.
Meskipun dianggap tabu, namun kesempatan bagi para wanita yang memiliki keahlian dan ingin mengembangkan karir di bidang welding (pengelasan) sangat terbuka lebar di perusahaan ini. Untuk memotivasi tenaga ahli wanita lokal, manajemen perusahaan ini sengaja mendatangkan welder dari China
Business Development Director, Heri Purnomo mengungkapkan, sikap manajemen yang memberi keleluasaan para wanita untuk meniti karir pada jenis pekerjaan yang dianggap berat oleh sebagian orang, bertujuan mengangkat derajat para wanita dan mensejajarkannya dengan pria.
“Kesempatan ini sengaja kita berikan, agar wanita tidak melulu sebagai TKI yang mencari kerja atau peruntungan di negeri orang karena lapangan kerja di dalam negeri yang masih terbatas. ■
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber gas. Bahkan dalam berbagai penelitian disebutkan Indonesia merupakan salah satu penghasil gas terbesar di dunia. Dari tahun ke tahun kebutuhan gas di Indonesia juga terus mengalami peningkatan. Sayang
Berikan komentar anda